Postingan

Menampilkan postingan dengan label kolonial

Pasanggrahan di Sumatera Barat Awal Abad ke-20

Gambar
  Singgalang.co.id | Pelancongan adalah perjalanan dan rangkaian aktivitas yang dilakukan oleh manusia, baik secara perorangan atau berkelompok ke suatu tempat untuk sementara waktu. Aktivitas ini dilakukan dengan tujuan mencari ketenangan, kedamaian, keseimbangan, keserasian dan kebahagiaan jiwa/batin. Di samping membutuhkan prasarana dan sarana transportasi, kegiatan ini juga membutuhkan sarana akomodasi. Salah satu jenis akomodasi yang dibutuhkan wisatawan adalah tempat menginap. Tiga contoh fasilitas akomodasi yang sangat lazim dikenal dan digunakan para pelancong saat sekarang adalah hotel, apartemen, dan guesthouse . Tempo doeloe, terutama pada kurun waktu empat dekade pertama awal abad ke-20, jenis-jenis akomodasi ini dikenal dengan sebutan hotel dan pasanggrahan. Sumber-sumber lama dari era Belanda, pada awalnya, mendefinisikan pasanggrahan sebagai tempat tinggal/menginap sementara bagi para ambtenar (pegawai pemerintah) atau orang-orang pemerintahan, termasuk juga aparat...

Anasir, Perembesan, dan Resepsi: Pembaratan di Bukittinggi Sebelum Era Jepang

Gambar
Oleh Deddy Arsya Dosen Universitas Islam Negeri Syekh Djamil Djambek Bukittinggi Disampaikan dalam Seminar Pelestarian Warisan Budaya dengan Tema: "Memahami Ulang Urgensi Pelestarian Warisan Budaya di Kota Bukittinggi" Rabu s/d Kamis, 30 s/d 31 Agustus 2023, Hotel Novotel Bukittinggi Yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Provinsi Sumatera Barat Kota itu, yang awalnya dibuat sebagai benteng, telah menjadi tidak sekadar kota militer. Gedung-gedung pemerintahan berdiri agak ketinggian dan menjadi pusat kota kemudian, bersama kantor dan rumah dinas pejabat tinggi Eropa, berdiri pula pasar dengan los-los dan rumah-rumah toko, kompleks permukiman berdasarkan bangsa (Cina, Keling, [1] Jawa), juga perangkat kota modern lain semisal gedung-gedung sinema [biskop], hotel, rumah sakit, dan penjara, pemakaman, jalan-jalan mulus dan lebar yang membelah kota, jalur-jalur kereta api dengan stasiun-stasiunnya, perumahan-perumah...

GENESIS DAN PERKEMBANGAN KOTA BUKITTINGGI MASA KOLONIAL BELANDA

Gambar
 Oleh: Dr. Zulqayyim, M.Hum Departemen Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas, Padang Disampaikan dalam Seminar Pelestarian Warisan Budaya dengan Tema: "Memahami Ulang Urgensi Pelestarian Warisan Budaya di Kota Bukittinggi" Rabu s/d Kamis, 30 s/d 31 Agustus 2023, Hotel Novotel Bukittinggi Yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Provinsi Sumatera Barat   1.   Pengantar Kota Bukittinggi menarik untuk dibicarakan, bukan saja karena peran sejarah yang telah dimainkannya selama sejak kurun waktu satu setengah abad yang lalu, [ 1]  tetapi juga keberadaannya sebagai kota kedua di Sumatera Barat, setelah Padang yang menjadi ibukota provinsi itu. Sejak tiga dasa warsa yang lalu, Bukittinggi telah pula berkembang menjadi pusat perdagangan konveksi untuk kawasan Sumatera, sehingga disebut sebagai Tanah Abang ke-II. Selain itu dan yang selalu melekat padanya adalah sebagai kota wisata karena keelokan pemandangan alam...

Kotak Pos Lama (Brievenbus)

Gambar
  Foto: klik positif Kotak Surat atau Bis Surat atau Brievenbus dalam bahasa Belanda atau kotak pos merupakan tempat atau kotak untuk mengirim surat yang sudah diberi alamat tujuan yang jelas, dan perangko yang cukup. Dalam sejarahnya di Indonesia, pos sudah ada sejak tahun 1602 pada saat VOC berkuasa.  Gubernur Jenderal G.W Van Imhoff mendirikan  kantor pos pertama di Batavia atau jakarta pada tanggal 26 agustus tahun 1746. Keberadaan Kantor pos sendiri sangat penting karena berkaitan erat dengan sejarah perkembangan telekomunikasi bahkan sejarah bangsa Indonesia sendiri. Berperan penting dalam memperlancar arus surat menyurat selama masa kolonial Belanda dan berkembang setelah penemuan teknologi telegram dan telepon.

Menara Air "Guguak Limpapeh"

Gambar
 "Fort de Kock" dirombak; menjadi Mercu Air "Guguak Limpapeh" Benteng Belanda kolonial "Fort de Kock" yang terletak di Bukit Jirek di tengah-tengah Kota Bukittinggi yang merupakan Lambang Penjajahan, oleh Gubernur/ Kepala Daerah Sumatera Barat, Kaharudin Dt. Rangkayo Basa pada hari Rabu jl. telah dirombak dan dijadikan mercu air yang diberi nama Mercu Air "Guguak Limpapeh" setelah diperbaiki/dibangun dengan biaya Rp. 2 Juta Seperti diketahuai di Kock adalah nama seorang Jenderal Belanda yang merebut [1] Kota Bukittinggi setelah menghadapi perlawanan yang sengit dari rakyat dalam Perang Paderi pada tahun 1925 [2] dan kemudian nama Kota Bukittinggi oleh Belanda digantinya menjadi kota "Fort de Kock". [3] Dari benteng "Fort de Kock" ini meriam-meriam kolonial Belanda diarahkan ke segenap penjuru kota untuk menghancurkan Kaum Padri yang melakukan perlawanan dengan gigih dan berani terhadap penjajahan kolonial Belanda.

Nama Jalan di Bukittinggi Masa Kolonial

Gambar
Sejarah Bukittinggi (4): Nama Jalan Tempo Dulu di Kota Bukittinggi; Residentweg Fort de Kock, Zuidersingels dan Oostersingels *Untuk melihat semua artikel Sejarah Bukittinggi dalam blog Pustaha Depok, silahkan  Klik Disini Pustaha Depok - Apa nama-nama jalan tempo dulu di Bukittinggi ?  Pertanyaan ini mungkin sepele dan tidak terlalu penting. Jika semua orang menganggap demikian, maka pertanyaan tersebut menjadi penting dalam artikel ini. Sebab (nama) jalan adalah penanda navigasi ketika siapapun yang berkunjung ke Bukittinggi. Kota Bukittinggi yang tempo doeloe disebut Fort de Kock, sebagai kota wisata, maka pertanyaan tersebut menjadi penting untuk diketahui. Residentweg te Fort de Kock (Zuid en Ooster) Bukittinggi tidak hanya Kota Wisata, juga kota bersejarah. Dalam hal ini, sejarah Bukittinggi menjadi elemen penting sebagai Kota Wisata. Sudah jelas bahwa sejarah awal Kota Bukittinggi adalah benteng Fort de Kock. Jalan dari dan ke benteng ini tiga arah: Dari selatan (dari ...

Pakan Malam 1908 di Bukittinggi

Gambar
  @kababukikttinggi via @nederlands_indie We all know the pasar malam, but did you know the annual festival of Fort de Kock (nowadays known as Bukittinggi) was named 'Pakan Malam'? (Kita semua tahu pasar malam, tapi tahukah Anda festival tahunan Fort de Kock (sekarang dikenal sebagai Bukittinggi) bernama 'Pakan Malam'?) Keterangan foto per slide (sudah ditranslate ke bahasa Indonesia, sumber postingan menggunakan bahasa Inggris). Foto 1 'Pakan Malam (pameran tahunan) di Fort de Kock (Bukittinggi).' - (1908). Di sebelah kanan dapat dilihat paviliun Padangsche Handelmaatschappij (Perusahaan Perdagangan Padang) dan Sindikat Kali di sebelah kiri.)

Alasan Mengapa di Eropa Tidak Banyak Gedung Pencakar Langit

Gambar
 Disalin dari kiriman FB Ensipedia ID Jika kamu pernah ke Eropa atau hanya melihat-lihat lewat gambar, pasti kamu tidak akan melihat banyak gedung pencakar langit di sana. Ya, di Eropa memang tidak memiliki gedung pencakar langit sebanyak negara-negara di Asia atau Amerika. Lantas, apa yang membuat Eropa tidak banyak memiliki gedung-gedung pencakar langit? Simak penjelasannya berikut ini! Benua Eropa adalah benua termaju di era modern. Eropa sudah lebih dahulu banyak membangun gedung-gedung yang modern walau bukan gedung pencakar langit. Dalam membangun suatu bangunan, orang Eropa memperhatikan nilai keindahan seni dalam arsitektur bangunannya. Sampai sekarang pun, bangunan-bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan indah sehingga masih bisa dilihat sampai saat ini.

Asal Usul Nama Bukittinggi dan Agam

Gambar
 Disalin dari Poestaha Depok Nama Bukittinggi tidak berdiri sendiri. Nama Bukittinggi terkait dengan nama Agam. Kini nama Bukittinggi dikenal sebagai Kota, dan nama Agam sebagai Kabupaten di Provinsi Sumatra Barat. Lantas apalah arti suatu nama ?  Tentu saja nama sangat berarti, lebih-lebih ketika kita ingin mengingat Ibu Kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (1948-1949). Bukittinggi dalam hal ini jelas kota kenangan: Kota Bersejarah. Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam Serial artikel Sejarah Bukittinggi adalah bagian dari serial artikel Sejarah Menjadi Indonesia. Paralel dengan penulisan serial artikel Sejarah Bukittinggi ini adalah penulisan serial Sejarah Air Bangis. Sejatinya di masa lampau kota Air Bangis dan kota Bukittinggi adalah kota kembar (namun kini beda nasib). Sebagai bagian dari Sejarah Menjadi Indonesia, Sejarah Bukittinggi dan Sejarah Air Bangis dapat disejajarkan dengan sejarah kota-kota lainnya di Indonesia. Dalam blog ini, sejarah kota-kota di Indone...

Sejarah Benteng Tanjung Alam di Agam

Gambar
 Disalin dari Poestaha Depok Di Agam tidak hanya benteng Fort de Kock di Bukittinggi, juga ada benteng di Tandjoeng Alam. Benteng Tandjoeng Alam adalah benteng penghubung antara benteng Fort van der Capellen di Batusangkar dengan benteng Fort di Kock di Bukittinggi. Tiga benteng ini memiliki peran penting membebaskan Padangsche Bovenlanden (Minangkabau) dari pengaruh Padri. Benteng Fort de Kock dan Bneteng Tandjoeng Alam (Pet 1835) Benteng Fort van der Capellen dibangun pada tahun 1822 di bawah komandan militer Raaff. Sedangkan benteng Fort de Kock dibangun pada tahun 1825. Benteng yang dibangun di dekat Pagaroejoeng disebut benteng van der Capellen sesuai nama Guebernur Jenderal Hindia Belanda,  GAGPh van der Capellen (1816-1826). Jenderal Hendrik Merkus de Kock adalah pimpinan militer Hindia Belanda yang mengirim Raaff ke pantai barat Sumatra. Pengiriman Raaff ini untuk membantu Asisten Residen yang berkedudukan di Tapanoeli yang saat itu Majoor GLC Rochmaler bermarkas di Na...

Nama Jalan di Bukittinggi masa Belanda

Gambar
Sejarah Bukittinggi (4): Nama Jalan Tempo Dulu di Kota Bukittinggi; Residentweg Fort de Kock, Zuidersingels dan Oostersingels Disalin dari blog Pustaha Depok Apa nama-nama jalan tempo dulu di Bukittinggi ?  Pertanyaan ini mungkin sepele dan tidak terlalu penting. Jika semua orang menganggap demikian, maka pertanyaan tersebut menjadi penting dalam artikel ini. Sebab (nama) jalan adalah penanda navigasi ketika siapapun yang berkunjung ke Bukittinggi. Kota Bukittinggi yang tempo doeloe disebut Fort de Kock , sebagai kota wisata, maka pertanyaan tersebut menjadi penting untuk diketahui. Residentweg te Fort de Kock (Zuid en Ooster) Bukittinggi tidak hanya Kota Wisata, juga kota bersejarah. Dalam hal ini, sejarah Bukittinggi menjadi elemen penting sebagai Kota Wisata. Sudah jelas bahwa sejarah awal Kota Bukittinggi adalah benteng Fort de Kock. Jalan dari dan ke benteng ini tiga arah: Dari selatan (dari Padang) melalui jalan Sudirman yang sekarang, terus ke jalan Istana dan jalan Yos Suda...

Bioskop Lintas Generasi di Kota Bukittinggi itu bernama Bioskop Eri

Gambar
Bioskop Eri, salah satu bioskop legendaris yang ada di Kota Bukittinggi. Bioskop yang menjadi primadona pada tahun 80an hingga 90an ini masih aktif hingga saat ini meskipun berada pada titik nadir perjalanannya. Saat ini Bioskop Eri hanya buka pada waktu-waktu tertentu dengan stok film jadul yang masih diputar dengan tiket murah meriah.

Tuan Kemendur

Gambar
Foto: wikipedia Controleur atau dilidah orang Melayu di Minangkabau menjadi Kumendur atau dipanggil Tuan Kumendur yang merupakan salah satu jabatan dimasa Kolonial Belanda di Indonesia. Merupakan jabatan terendah dalam struktur organisasi pemerintah kolonial. Controleur menguasai sebuah wilayah yang bernama Onder Afdeeling dan di atasnya terdapat Asisten Residen yang menguasai wilayah yang bernama Afdeeling . Pada masa kolonial Bukittinggi merupakan bagian dari Onderafdeeling Oud Agam (Agam Tua) yang wilayah mencakup Kota Bukittinggi dan Agam Timur (di Kabupaten Agam sekarang). Ibu kotanya terletak di Bukittinggi. Asisten Residen berkantor di Istana Bung Hatta sekarang dan Controleur berkantor di tempat yang sekarang menjadi Bukittinggi Plaza.

Lokomotif Uap E10 di Stasiun Bukittinggi

Gambar
  Momen perkeretaapian di Kota Bukittinggi Sumatera barat tahun 1970. Sebuah lokomotif uap bergigi seri E10 dan beberapa gerbong penumpang baru sampai di emplasemen stasiun bukittinggi dari kota padang panjang. 📸 Internationalsteam.co.uk Disalin dari IG Sumatrain

Bukittinggi masa Agresi Belanda II

Gambar
SERANGAN DIKOTA BUKITTINGGI 19 DESEMBER 1948- Pada masa Perang Kemerdekaan, Bukittinggi dijuluki sebagai “ Ibu Kota Kedua Republik Indonesia”  Selama beberapa bulan, pada tahun 1947 Wakil Presiden RI berkedudukan di kota ini. Dari Bukittinggi, Wakil Presiden memimpin dan menggendalikan  pemerintahan dan perjuangan untuk seluruh Sumatera.

Penjara Lama Dulu dan Kini

Gambar
  Catatan  @padangheritage : Melihat Penjara Lama Bukittinggi dari Ketinggian Tampak dari kejauhan terlihat penjara lama Kota Bukittinggi atau bernama Gevangenis van Fort de Kock yang gagah berlatarkan menawannya Gunung Marapi. Kolase foto old now kali ini menunjukan untuk foto jadul bagian atas terlihat Fort de Kock masih berupa hamparan sawah dengan suasana yang masih terasa pedesaannya, jalan masih tanah dan rumah penduduk pun belum ada. Masih bangunan penting bangsa Belanda seperti penjara lama. Foto ini koleksi Nationaal Museum van Wereldculturen sekitar tahun 1857-1890.

Stasiun Kereta Api Padang Lua

Gambar
Sejarah Cagar Budaya Stasiun Kereta Api Padang Luar di Kabupaten Agam. Stasiun padang luar merupakan salah satu cagar budaya tidak bergerak yang berada di kabupaten agam sumatera barat. Stasiun Padang Luar tercatat sebagai cagar budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Sumbar dengan nomor inventaris 57/BCB-TB/A/11/2011.

Jalur KA Bukittinggi - Payakumbuh

Gambar
  Potret perkeretaapian lintas Bukittinggi - Payokumbuh tahun 1971, tepatnya di jalan raya Bukittinggi-Payakumbuh Padang Tarok, Kecamatan Baso, Kabupaten Agam. Lintasan kereta api tersebut sudah dinyatakan non aktif sekitar tahun 1973. Kondisi dari jalur kereta api yang menghubungkan Kota Bukittinggi dan Payakumbuh saat ini sangat memprihatinkan dimana rel yang membentang puluhan kilo meter itu sudah banyak yang tertimbun bahkan dihuni oleh masyarakat setempat yang dijadikan bangunan permanen atau semi permanen diatas rel seperti yang terlihat pada slide terakhir dari google street.

Jalur KA Padang Panjang - Bukittinggi

Gambar
  Refleksi dulu dan sekarang jalur kereta api yang menghubungkan kota padang panjang hingga kota bukittinggi pada saat masih aktif sekitar tahun 1970 an dan perbandingannya pada tahun 2021. Jalur kereta api ke kota bukittinggi dibangun pada masa kolonial belanda yang hanya digunakan sebagai pengangkutan biji kopi dan tentara belanda yang dibuka pada 1 november 1891.

Stasiun KA Bukittinggi dalam Kenangan

Gambar
Stasiun Bukittinggi dan Jejak Perkeretaapian yang Terlupakan by  @beyubaystory Perkeretaapian memang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan suatu kota di Ranah Minang. Pasca ditemukannya kandungan batubara Ombilin di Kota Sawahlunto, seakan menjadi pengungkit bagi sektor perhubungan dan perdagangan. Mobilisasi hasil bumi dan manusia jauh lebih mudah pada zaman itu. Bukittinggi abad ke-19 tumbuh menjadi kota penting bagi pemerintah kolonial sekaligus kota urban tempo itu hingga akhirnya serba serbi wajah kota hadir termasuk rangkaian jalur kereta api.