Asal Usul Nama Bukittinggi dan Agam
Disalin dari Poestaha Depok
Nama Bukittinggi tidak berdiri sendiri. Nama Bukittinggi terkait dengan nama Agam. Kini nama Bukittinggi dikenal sebagai Kota, dan nama Agam sebagai Kabupaten di Provinsi Sumatra Barat. Lantas apalah arti suatu nama? Tentu saja nama sangat berarti, lebih-lebih ketika kita ingin mengingat Ibu Kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (1948-1949). Bukittinggi dalam hal ini jelas kota kenangan: Kota Bersejarah.
![]() |
Kota Bukittinggi dan Kabupaten Agam |
Sebagai bagian dari narasai sejarah, kapan nama Bukittinggi dicatat dan kapan pula nama Agam dikenal? Sejauh ini tidak ada keterangan yang memuaskan. Namun sejarah tetaplah sejarah. Sejarah adalah narasi fakta dan data. Nama Bukittinggi di Agam yang pernah menjadi Ibu Kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia haruslah tetap dicari. Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber tempo-tempo doeloe.
![]() |
Benteng Fort de Kock (Lukisan 1825) |
Boekiet Tinggie dan Agam
Nama Bukittinggi paling tidak sudah ada ketika benteng Fort de Kock dibangun tahun 1825 (lihat Bataviasche courant, 16-11-1825). Disebutkan keberadaan benteng (fort) de Kock berada di Bukittinggi, district Agam. Oleh karena keutamaan benteng Fort de Kock (dalam Perang Padri), orang Belanda kemudian lebih sering menyebut Fort de Kock daripada Bukittinggi. Kelak, baru pada tahun 1950 nama Bukittinggi dipulihkan kembali.
![]() |
Bataviasche courant, 16-11-1825 |
Pada saat permulaan pembentukan Pemerintahan Hindia Belanda di pantai barat Sumatra tahun 1819, ibu kota ditempatkan di (kampong) Tappanoeli dimana Asisten Residen WJ Waterloo berkedudukan. Hal ini karena aktivitas Inggris di Padang masih ada (Inggris berpusat di Bengkoeloe). WJ Waterloo dibantu oleh pejabat sipil dan militer. Di Padang ditempatkan pejabat pelabuhan dan pakhuismeester; di Natal ditempatkan pejabat pelabuhan yang merangkap pakhuismeester. Militer dengan pangkat tertinggi (Majoor von Rochmaler) bermarkas di Natal. Untuk urusan pedalaman (Padangsche Bovenlanden) dipimpin oleh Kapitein C Bauer. Empat komandan berpangkat Luitenant ditempatkan di Agam, Samawang, Padang Canting dan Pariaman. Satu komandan militer dengan pangkat Eerste Luitenant Amstrong di Ajer Bangis (lihat Almanak 1822). Di Agam ditempatkan Luitenant Cremer. Inilah untuk kali pertama diketahui orang Belanda memasuki wilayah pedalaman di Minangkabau (Padangsche Bovenland). Kapitein C Bauer mulai membangun benteng sebagai ibu kota dengan memilih di Boekit Tinggi. Tidak lama kemudian terjadi perjanjian tukar guling antara Bengkoelen (Inggris) dan Malaka (Belanda) yang dikenal sebagai Tractat London, 1824). Pada tahun 1824 ibu kota pantai barat Sumatra dipindahkan dari Tapanoeli ke Padang yang statusnya ditingkatkan menjadi Residentie yang mana Resident yang diangkat adalah Colonel HJJL de Stuers.
Ketika Belanda memasuki pedalaman dalam merealisasikan pembentukan pemerintahan, sudah lebih dahulu ada kesepakatan antara Pemerintah Hindia Belanda dengan para pangeran Pagaroejoeng. Kesepakatan ini bermula ketika Raffles (Letnan Gubernur Jenderal Inggris) menjalin alinasi dengan para pangeran. Raffles sendiri telah berkunjung ke Pagaroejoeng pada tahun 1819. Sehubungan dengan adanya perjanjian antara Inggris dan Belanda (perihal tukar guling Bengkulu dan Malaka), kesepakatan Raffles dengan para pangeran Pagaroejoeng juga termasuk yang diestafetkan dari pihak Inggris ke pihak Belanda (lihat Groninger courant, 17-12-1824). Ketika Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1819 mulai membentuk pemerintahan di pantai barat Sumatra, aktvitas Inggris masih ada di pedalaman Minangkabau (Pagaroejoeng). Hal inilah yang menyebabkan ibu kota pantai barat Sumatra ditempatkan di Tapanoeli. Proses pertukaran informasi antara Inggris dan Belanda soal pantai barat Sumatra berlangsung selama antara tahun 1819 (dimulainya pembentukan pemerintahan Hindia Belanda) hingga 1824 (Traktat London).
Komentar
Posting Komentar