Bung Hatta: Listrik di Batu Ampa

 


IG Sumbar Tempo Dulu | Tahun 1976 di Batuhampar, Muhammad Athar seakan kembali pulang ke pemukiman suluk bako beliau [keluarga ayahnya]. Tangis Hatta bukan air mata nostalgia, tapi bertaut dengan limpahan zuhud yang menemukan asalnya.

Di antara surau, makam, dan cahaya listrik yang baru memasuki nagari dan surau kala itu, ia membaca ulang takdirnya: bahwa ‘ilm dan adab lebih abadi dari jabatan, dan khidmah lebih tinggi dari kuasa. Tombol yang ditekan hari itu barangkali seperti dzikir yang menggetarkan nagari, menyambungkan masa silam dengan hari kini.

Dan listrik yang menyala di surau itu, seperti nur kecil yang menegaskan: jalan pulang selalu bermula dari kerendahan hati.

Tulisan oleh : @habibsyadzily
Desain oleh : @sumbartempodulu
========

Integritas Mohammad Hatta sering dibaca dari etos kenegarawanannya yang bersih dan asketik. Namun di Batuhampar,[1] sebuah nagari di Luhak Limo Puluah, jejak itu menemukan akar terdalamnya. Di sanalah garis keislaman Muhammad Hatta berurat-akar, bersumber dari seorang ulama besar abad ke-19, Maulana Syekh Abdurrahman Batuhampar, kakeknya, tokoh sentral tradisi surau dan tarekat Minangkabau. Dari Syekh Abdurrahman lahirlah Muhammad Djamil yang kemudian menikah dengan puteri seorang saudagar dari Bukittinggi. Dari pernikahan ini kemudian lahirlah Rafi'ah dan Muhammad Athar, nama kecil Hatta, yang kelak membawa disiplin kehidupan surau ke gelanggang sejarah bangsa.

Batuhampar bukan sekadar kampung halaman. Sejak abad ke-19, nagari ini dikenal sebagai  salah satu locus[2] pendidikan Islam Sufi.[3] Surau Batuhampar berdiri bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi sebagai institusi pendidikan keislaman yang hidup.[4] Di sana, Urang Siak[5] mempelajari al-Qur'an, fikih, tasawuf, hingga ilmu adab seperti nahwu dan sharaf.[6] Surau itu menjadi ruang transmisi ilmu sekaligus pembentukan akhlak. Barangkali dalam bahasa akademik, ia adalah prototipe lembaga pendidikan Islam pra-modern yang memadukan 'ilm dan ta'dib.[7]

Waktu berputar cepat, pada tahun 1976, pada usia 74 tahun, Bung Hatta kembali menjejakkan kaki di Sumatra Barat. Seperti kebiasaan lamanya, ia ingin berziarah ke makam orang tuanya di Batuhampar. Yang tak ia ketahui, kunjungan itu telah disiapkan menjadi sebuah kejutan.
Januar Muin, insinyur energi yang kelak dikenal sebagai arsitek sejumlah pembangkit listrik besar di Sumatra Barat, diam-diam merancang sebuah peristiwa kecil yang akan membekas dalam sejarah personal Hatta.
Januar Muin, bukan nama sembarangan. Putra Nagari Sumanik, Tanah Datar, kelahiran 9 Juni 1936 ini berada di balik pembangunan PLTA Batang Agam, PLTA Maninjau, hingga perencanaan PLTA Singkarak dan PLTU Ombilin. Saat itu, sebagai Kepala PLN Pikitring Sumbar-Riau, ia membawa logika teknokrasi ke jantung nagari.
Begitu turun dari mobil, Bung Hatta tertegun. Sepanjang jalan menuju surau, orang-orang telah berbaris mengenakan pakaian adat. Pejabat kabupaten berdiri berdampingan dengan ninik mamak. Suasana seperti alek nagari. Bung Hatta, dengan langkah tenang berjalan menuju sebuah meja kecil dengan tombol di atasnya.
Tanpa penjelasan panjang, ia diminta menekan tombol itu. Ketika tombol dipencet, sirene meraung, disambut tepuk tangan orang banyak. Bung Hatta menoleh, heran. Ia bertanya lirih kepada Januar Muin yang berdiri di sampingnya, "Apa maksudnya ini Januar?". Dengan suara singkat, Januar menjawab, "Maaf Pak! Sekali ini kami minta Bapak menekan tombol barusan menandakan masuknya listrik ke Nagari Batuhampar, termasuk ke surau juga sudah dipasang aliran listrik."
Kata-kata itu menghantam batin Bung Hatta. Matanya berkaca-kaca. Untuk memecah suasana, Januar segera mengajaknya berjalan menuju kompleks makam keluarga. Di sana, Bung Hatta kembali terdiam. Makam ayah dan kakeknya telah dirapikan. Surau tua di depannya tampak lebih terawat. Dengan kepala sedikit menunduk, Januar berkata pelan, "Ini semua kado kami untuk Bapak."
Permintaan masyarakat agar Bung Hatta berbicara tak bisa ditolak. Berdiri di depan pintu surau, ia menyampaikan isi hatinya dengan suara bergetar, "Ketika saya menjadi Wakil Presiden, saya tidak mampu memperbaiki surau peninggalan orang tua saya. Bahkan saya tidak mampu menyemen makam orang tua. Apa lagi mengaliri listrik ke nagari. Tetapi jauh setelah saya tidak menjadi Wakil Presiden lagi, ada anak muda yang mau membantu". Ia berhenti sejenak, mengusap matanya, lalu menutup dengan ucapan terima kasih kepada Januar Muin.
Di Batuhampar, tangis Bung Hatta bukan sekadar emosi personal. Tapi juga pertemuan antara warisan kesalehan, etika pengabdian, dan modernitas yang datang bersamaan dengan tenang. Sebuah fragmen kecil, namun cukup untuk menjelaskan dari mana integritas itu berasal.
Sumber:
Mestika Zed. Seri Bacaan Riwayat Hidup Syekh Batuhampar: Datuak Oyah H. Sya'rani Chalil Dt. Majo Reno.


===========
Catatan kaki oleh Admin:

[1] Batu Ampa atau dimelayukan menjadi Batu Hampar, merupakan nama sebuah nagari di Luhak Limo Puluah Koto yang acap disalah fahami sama dengan Kabupaten Limapuluh Kota. Walau terletak di wilayah administratif kabupaten dimaksud, namun penyamaan antara Luhak dan Kabupaten sama sekali tidak tepat. Walau lazim pada sekarang menyamakan antara wilayah kebudayaan dengan administratif namun hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya penghilangan dan penggantian identitas masyarakatnya. Sedangkan Nahwu dan Sharaf merupakan ilmu yang mempelajari Tata Bahasa Arab.

[2] Tempat atau lokasi sepesifik

[3] Di Minangkabau tidak dikenal istilah 'Islam Tradisional' seperti di Jawa, ketika faham baru masuk maka muncullah istilah Kaum Tua dan Kaum Muda. Kaum Tua yang di Jawa dikenal dengan nama Islam Tradisional sedangkan Kaum Muda merupakan orang-orang yang membawa revolusi pemikiran yang digerakkan oleh Syekh Hasan al Banna dari Mesir.

[4] Dalam Budaya Islam Masjid atau di Minangkabau dinamai 'Surau' bukan hanya sebagai tempat ibadah melainkan juga menjadi pusat dari kehidupan umat Islam. Para Khulafurasyidin melaksanakan kepemimpinan mereka dari Surau Nabi atau Masjid Nabawi. Rasulullah sendiri mendidik para sahabat di surau beliau. Di Minangkabau, surau merupakan instituti pendidikan bagi anak Minangkabau, baik ilmu agama maupun adat di pelajari di sana. Silatpun diajari di surau. Namun keadaan telah berubah, peranan surau semakin menyusut, seiring dengan dijauhinya adat oleh Anak Minangkabau.

[5] Urang Siak, merupakan sebutan untuk orang-orang yang faham Hukum Syari'at secara mendalam dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

[6] Fiqih ialah cabang ilmu yang mempelajari Hukum-Hukum dalam Agama Islam, Tasawuf atau Sufisme merupakan suatu metode pembelajaran dalam Islam yang pada awalnya mengajarkan umat Islam untuk bersikap Zuhud, menyucikan jiwa, membangun lahir dan bathin, menjunjung tinggi humanisme, memahami ajaran Islam secara mendasar dan mendalam dimana setiap makna dari keislaman itu difahami dan dipraktekkan dalam kehidupan.

[7] Ta'dib, merupakan teknik pendidikan Islam yang mengutamakan adab.











Komentar

Postingan populer dari blog ini

29. Wisma Anggrek

Garis Waktu Bukittinggi

Dongeng: Nenek Tua dan Ikan Gabus