Syofyani Bustaman*; Mengabdikan Hidup Pada Kesenian
Disalin dari webblog: Bundo Kanduang
Dalam
pengabdian didunia gerak dan tari, lebih dari 50 tahun – Ibu yang hampir
memasuki usia 3/4 abad ini sudah malang melintang dibidang seni. Ia memang
pantas disebut sebagai seniwati Minangkabau. Melangkahkan kakinya ke
Mancanegara membawa missi kesenian sejak tahun 19 62 silam, dan telah
menjejakkan kaki di belahan dunia manapun hingga lebih dari 40 kali kunjungan.
Jenis tarian yang dimunculkannya meliputi : tari pesambahan, tari indang, tari
sewah, manggaro, pencak silat, dll.
Pertama kali – Ia mendirikan
group tari dengan beberapa orang mahasiswa Ikip – Padang pada 15 Februari
tahun 1962, ketika itu para mahasiswi ini akan mengikuti festifal kebudayaan
Mahasiswa di Bali. Sebagai seorang mahasiswa, Syofiani selalu berupaya menjadi
pemprakarsa untuk menciptakan tari-tari baru – karena ia memang memiliki bakat
dibidang itu. Ia selalu ditunjuk sebagai leader dalam group tari mahasiswa itu.
Seluruh kegiatan tari menari ini berpusat di Kota Bukittinggi, karena ia
menjalani studynya sebagai mahasiswa dari Jurusan Bahasa Inggris dari IKIP –
PADANG kala itu.
Sementera itu seorang musisi muda yang bernama Yusaf Rahman yang saat itu menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian – menjadi motivator untuk kemajuan group tari Syofiani dan kawan – kawan. Yusaf Rahman muda bertindak selaku pencipta lagu untuk menyertai tarian yang diciptakan Syofiani. Keduanya bekerjasama untuk Group tari itu dan tiada hari harinya tanpa tari dan musik. Setelah mereka menikah, pasangan ini menjadi ” hati dan rasa dari group itu. Yusaf Rahman menciptakan lagu dan Syofiani sebagai kreografernya.
Syofiani memiliki
dua studio yakni di Padang dan di Bukitinggi. Group tarian Syofiani
mengajarkan lebih dari 350 anak-anak setiap tahun. Mereka diasuh oleh 10 orang
penari profesional dan asistennya . Para murid-muridnya akan memepelajari 6
tarian setiap tahunnya.
Dengan dukungan dari
Gubernur Sumbar khususnya Bukitinggi dan Padang serta masyarakat pencinta seni
Minangkabau, group ini telah memiliki reputasi nasional dan Internasional.
Merekapun dikenal penampilannya pada event dan festifal di dunia.
Tarian yang menjadi trademark dari grup tari
Syofiani adan Tari piring di atas pecahan kaca. Tarian ini adalah tarian
spesifik anak pasangan pasangan almarhum
Bustamam St. Makmur dan almarhumah Saiyar Bustaman.. Tari ini
warisan kakeknya Dt. Tumanggung. Biasanya penari yang berada di atas pecahan
kaca adalah keluarga dekat. Yang pertama membawakan tari piring adalah adik
ayah dan adiknya sendiri.
Sekali waktu, ketika hendak melakukan
pementasan adik Ani tidak di tempat. Artinya tak ada yang tampil. Yang mau
tampil pun tak ada. Memang banyak penari dalam grup yang diasuh kakeknya itu,
tetapi mereka semua masih termasuk orang luar. Tak ada pilihan lain. Ani
ditunjuk menggantikan. Mau tak mau Ani harus tampil. Tentunya sebagai pemula,
ia sangat khawatir. Sebagai kanak-kanak, rasa takutnya berlebihan. Ia menolak.
Dalam bayangannya muncul hal-hal buruk. Bagaimana kalau pecahan kaca itu
melukai kakinya? Saat itu benar-benar tak ada pilihan.
“Waktu itu memang saya sulit untuk
memutuskan. Tapi kata kakek kami harus tetap menampilkan tari piring. Soalnya
kami sudah terikat perjanjian,” jelas Ani tentang pengalaman pertamanya menari
di atas kaca.
Setiap hari Ani berlatih dengan kakeknya di
kampung. Sang kakek mengambil 100 buah botol bir yang sudah dipecahkan.“Saya
disuruh menghentakkan kaki di atas pecahan kaca itu. Saya ragu-ragu
menghentakkan kaki di atas pecahan kaca itu. Saya ragu-ragu memulai karena
takut. Melihat saya cemas, kakek langsung melakukannya. Memang tak terjadi
apa-apa. Saya masih takut. Kemudian saya disuruh duduk . Kakeklah yang membantu
menghentakkan kaki saya ke atas pecahan kaca . Lama-lama rasa cemas saya
hilang. Akhirnya saya bisa,” papar Ani mengenang masa paling berkesan dalam
hidupnya.
Berikut ini sekelumit kisaha perjalanan
hidupnya sebagaimana yang sudah dikupas pada awal artikel ini. Pada President
Mission Culture di Pakistan, Ani harus menari di atas kaca. Lantaran takutnya
Ani meminta didampingi dokter dan obat-obatan. Padahal ia tahu bahwa dokter
hanya spirit mental. Andai kata ia terluka sebenarnya kuncinya ada pada
Bustaman, sang ayah, ia mewakili kakeknya yang sudah tua. Sejak itu, bila
menari Ani selalu didampingi ayahnya. Tari piring memang punya pengiring
sebagai kuncinya. Begitulah turun temurun sampai pada anak-anak Ani.
Pengalaman menarik bagi Ani saat remaja
adalah ketika ia diajak orang tua menari dalam sebuah acara hiburan bagi
pejuang di masa perang. Acara tersebut berlangsung di Kuranji. Ia merasa bangga
sekali dapat menyenangkan hati orang yang sedang tertekan akibat perang.
Pengalaman itu sangat berarti baginya.
Dengan keberadaan seorang Yusaf Rahman, grup
ini semakin eksis. Sebab dari segi music, Yusaf sangat mendukung. Ia pula yang
melatih music dan mempersiapkan music untuk koreografi Ani. Pasangan serasi ini
melangkah bersama-sama, mengelola sanggar tari dan music bagi anak-anak di
Bukittinggi dan Padang.
Mengatur anak-anak yang kebanyakan berusia
remaja, bagi Ani terasa sulit. Hal ini menyangkut kepercayaan orang tua yang
telah menitipkan anaknya di sanggar untuk belajar seni. Ia mesti menjaga itu.
Syukurnya, anak-anak sanggarnya tak banyak ulah. Ani menanamkan rasa
persaudaraan di mana satu sama lain adalah keluarga. Masing-masing anak
diajarkan bertanggung jawab pada teman lain. Tetapi tidak berarti saling
tergantung. Bagimanapun, setiap anak harus mandiri.
Pertanyaan yang barangkali sering muncul
adalah bagaimana sanggar Syofyani bisa tetap aktif dan bertahan haingga lebih
dari 40 tahun? Menurut Ani, kuncinya adalah karena ia dan suaminya pegawai
negeri, dosen UNP. Dari sanalah mereka menjamin setiap kekurangan biaya dalam
perisapan sebuah pertunjukan. Kalau mengandalkan honor pertunjukan, sepertinya
belum memadai meski pun grup mereka sering diundang.
“Undangan itu kan tidak rutin. Sedangkan kami
harus berlatih secara kontiniu,” alasan Ani. Acapkali, saat menerima gaji
uangnya langusng dimanfaatkan untuk persiapan penampilan. Syukurnya banyak
pengeluaran yang bisa ditekan. Misalnya music, karena ditangani suami, honornya
bisa gratis. Begitu juga dengan tata rias, ibu enam anak ini mengharuskan
penarinya dandan sendiri. Apalagi pakaian dan peralatan, mereka tidak menyewa.
Jadi, banyak biaya yang bisa mereka hemat.
Perjalanan sanggar yang dikomandoi Syofyani
sudah terbilang banyak. Berbagai tempat yang ia kunjungi. Dari lawatan itu
banyak pengalaman dan kesan yang ia peroleh.paling berkesan adalah ketika
grupnya diundang oleh panitia Festival du Folklore (Festival Tarian Rakyat) di
Monteiro, Prancis. Ia amat tersanjung. Sebab grup merekalah yang pertama kali
tampil dalam pertemuan bergengsi ini mewakii nama Indonesia. Melalui festival
itulah negara-negara Eropa bisa mengenal Indonesia.
Dalam festival tersebut, Syofyiani Dance
tampil dengan tiga tarian menggunakan pakaian yang berbeda. Orang Eropa sempat
terkagum-kagum, pasalnya mereka terbiasa menggunakan pakaian yang sama saat
melakukan tarian. Bahkan dari awal hingg akhir pertunjukan, mereka cuma
mengenakan satu baju.
“Dalam grup, hal itulah yang saya tekankan.
Harus cepat dan bisa mengurus diri sendiri. Bisa dibayangkan, dalam tiga menit
anak-anak harus mengganti pakaian, sunting atau tanduk kepala. Mereka sudah
terlatih. Alasannya sederhana saja. Dalam perjalanan ke luar negeri, jumlah
anggota amat terbatas. Kita tidak mungkin bawa rombongan besar. Makanya dalam
tiap pertunjukan, urusan busana, tata rias dan pelengkapan tampil termasuk alat
musik yang berat-berat harus diangkut sendiri. Tidak ada yang menolong. Semua
peraturan berlaku sama, termasuk anak saya sendiri,” papar Syofyani.
Dalam festival di Prancis itu, Syofyani
mendapat penghargaan sebagai grup tari terbaik pertama. Padahal Indonesia baru
pertama kali ambil bagian dalam festival itu. Syofyani melihat betapa
antusiasnya peserta dari negara lain melihat tarian Indonesia. Ani sangat
terharu. Saking terharunya, ia sampai menitikkan air mata. Perasaan bangga,
bahagia bercampir aduk. Kebanggaan tersendiri dan amat berarti karena ia sudah
mempersembahkan sesuatu yang memberi posisi terhormat bagi bangsanya.
Penghargaan lain, Syofyani pernah menerima Pengabdian Masyarakat Cemerlang
(PMC) dari Yang Dipertuan Agung Malaysia tahun 1996 dan sebagai jasawan tahun
1997 dari Gubernur Sumatera Barat atas pengabdiannya yang tak henti dalam
mengembangkan kesenian.Penghargaan lain ia juga memperoleh 63 tahun berkarya
dari Depbudpar Sumbar tahun 2008, dan terbaru inspirator award dari Sushi FM
pada bulan Mei 2009 lalu.
Secara rutin tahun 1991 dan 1997, Grup
Syofyani diundang lagi ke Prancis untuk festival yang sama. Banyak undangan
lain berdatangan. Ia sudah membawa Syofyani Dance berkeliling dunia,
diantaranya Yunani, Italia, Spanyol, Australia, Swiss, Belanda, Amerika, Korea,
Jepang dan seluruh negara Asean. Secara pribadi, Syofyani dan suaminya almarhum
juga diundang University Kebangsaan Malaysia sebagai staf pengajar tari dan
music selama 8 bulan.
Sebagai orang Timur, dalam keluarganya
Syofyani menerapkan kegotong royongan. Hal satu ini sangat kental dalam
keluarga besar mereka. Terutama dalam mendidik anak. Bagi keluarga Minang, hal
yang biasa terlihat bila cucu diasuh dan tinggal bersama nenek atau eteknya. Ia
amat lega saat harus keluar kota bersama suaminya bila di rumah ada Ibu, adik
atau saudara lainnya. Bahkan pernah selama berbulan-bulan pasangan itu berada
di Malaysia, anak-anaknya aman-aman saja. Mereka suadah terbiasa ditinggal.
Nilai rapor mereka tetap bagus.
“Saya bangga pada mereka. Apalagi dalam darah
mereka juag mengalir darah seni orang tuanya. Saya tidak pernah memaksa mereka
harus belajar tari atau musik. Bakat dan kesadaranlah yang memanggil jiwa
mereka untuk menekuni bidang seni,” ucap Syofyani dengan kebanggan yang sulit
ia sembunyikan.
Entah kebetulan atau keajaiban apa, ada hal
yang masih ia pertanyakan hingga kini. Rasanya memang aneh. Semua anak-anak
yang huruf awal namanya Y (Yosi, Yovi Yosa) diambil dari nama ayahnya, berbakat
dan mahir bermain music mengikuti jejak sang ayah, Yusaf Rahman. Sementara yang
memiliki nama S (Soni, Sandra, Sofi) dari awal nama Syofyani, semuanya berbakat
menari.
“Saya menilainya sebagai karunia dan
ketetapan dari Allah. Saya amat mensyukuri semua bakat dan kemampuan anak-anak
baik dalam kesenian maupun pendidikan. Dua anak saya masuk perguruan tinggi
lewat PMDK,” kata Syofyani.
Padahal sebagai dosen dan pengelola grup yang
lumayan besar, pasangan seniman ini sering meninggalkan anak-anaknya. Tapi ada
satu hal yang selalu ia tanamkan pada anak- anak adalah selalu berpegang teguh
pada ajaran Allah.
Sebagai perempuan yang sudah melanglang buana
ke berbagai belahan dunia, adat ketimuran masih tetap kental pada keseharian
Syofyani. Ia mengaku dibesarkan dan hidup dalam lingkungan adat serta alam
budaya Minangkabau. Karena itu ia selalu memegang teguh adat dan budaya yang
telah mendarah daging dalam kehidupan dan pandangan hidupnya.
“Perempuan Minang mendapat kedudukan yang
terhormat. Ini bermula dari Mitos Bundo Kanduang. Perempuan Minang merupakan
andalan dan tiang dari adat dan budaya seperti disebutkan dalam moto, kok
tunggak dimakan bubuak tando di rumah gadang karuntuah. Artinya apabila tonggak
utama rumah gadang telah keropos, itu tandanya rumah gadang akan runtuh. Bila
perempuan moralnya sudah rusak, alamat budayanya akan runtuh,” kata Syofyani
berpepatah. Masih banyak perumpaan yang ia sebutkan sebagai simbol yang
menyatakan bahwa perempuan Minangkabau sudah mendapat tempat.
Sebagai perempuan Minang yang sudah hampir
seluruh hidupnya diabdikan pada kesenian. Nenek 15 cucu ini senantiasa berupaya
melestarikan seni pusaka tradisi dalam bentuk kreasi-kreasi baru. Syofyani tak
pernah berhenti berkreasi. Pengabdiannya dalam dunia kesenian terutama tari tak
perlu diragukan meski suaminya Yusaf Rahman telah meninggal dunia beberapa
tahun lalu. Meski tanpa sang suami yang selalu menjadi penyemangat baginya, ia
tetap berkaya, melahirkan karya-karya untuk anak bangsa ini. Karena itu pula ia
mendapat penghargaan A Lifetime Achievment pada West Sumatera Tourism Award,
tahun 2009 lalu. (nit)
T*ulisan asli berjudul Syofyani Yusaf: Seniwati Minangkabau, kami tidak menggunakan judul ini karena 'Yusaf" ialah nama suami beliau dan dalam adat orang Minangkabau tidak ada kebiasaan menambah nama suami di belakang nama isteri.
Komentar
Posting Komentar