‘Athar: Jejak Kepribadian Minang yang Terlupakan




Dari buku: Bung Hatta di Mata Generasi Muda Minangkabau

Manusia membuat rencana namun Allah jua yang menentukan, demikianlah kiranya yang berlaku pada kehidupan Muhammad ‘Athar. Keluarga bakonya di Batu Ampa[1] dan keluarga ibunya di Bukittinggi telah bersepakat bahwa Si Buyung Kecik ini akan disekolahkan di Sekolah Rakyat selama lima tahun dan pada malam hari mengaji di Surau Nyiak Djambek di Tangah Sawah.[2] Tamat ataupun tidak, apabila sang kakek pergi naik haji ke Mekah maka Si Buyung mesti turut serta dibawa. Di Tanah Suci ia akan disekolahkan di bawah pengawasan adik bungsu sang ayah (Haji Nurdin) dan selepas itu akan melanjutkan sekolah ke Kairo, Mesir. Namun tak satupun dari rencana itu yang berlaku, beberapa pekan sebelum keberangkatan ke Mekah, ibundanya tak hendak melepas anak bujangnya pergi jauh. Tempat Si Buyung - yang biasa dipanggil Atha (karena lidah Melayu) - ini digantikan oleh adik bungsu ibunya Mak Idris.[3]

Arah perjalanan hidup kita telah digoreskan oleh Yang Kuasa dalam Kitab Lauh Mahfudz[4]. Akan halnya dengan Ata, - demikian beliau dipanggil oleh keluarga dan orang kampungnya - hanya dapat menjalani takdir yang telah digoreskan tersebut. Bersekolah di kampung halaman, kemudian dipindahkan ke Padang karena guru Bahasa Inggrisnya dipindahkan ke Batavia.[5] Setelah menamatkan sekolah di Padang, Bung Hatta kemudian melanjutkan sekolah di Betawi,[6] pusat pemerintahan Kompeni di Hindia Belanda. Akhirnya, pendidikannya dikhatamkan di Negeri Kompeni.[7]

Berbagai peristiwa yang dialaminya semenjak kanak-kanak telah mulai menimbulkan berbagai pertanyaan dalam bathin Atha. Salah satunya ialah Perang Kamang.[8] Saat Atha yang masih kanak-kanak bertanya kepada sang mamak[9] perihal perang tersebut ia mendapat jawapan “Orang Belanda tak dapat dipercaya, ia melanggar janji..”[10]

Ketika beranjak remaja, Atha mulai belajar mandiri, hidup jauh dari rumah. Tinggal di Padang membuat ia mesti mengatur waktu dengan baik. Sungguh aneh, tanpa diajari sudah teratur hidup beliau. Rupanya ini berkat pengajaran yang baik dari keluarga. Layaknya keluarga Minangkabau masa dahulu,[11] ilmu agama ialah pelajaran wajib untuk diajarkan kepada setiap anak, terlepas dari arah karir mereka dimasa depan. Dan shalat ialah salah satu amalan wajib yang tak boleh ditinggalkan dalam kondisi apapun, dan wajib dikerjakan semenjak akil balig. Berkat kedisiplinan beliau mengerjakan shalat maka hal tersebut dengan serta merta membuat beliau disiplin untuk hal-hal yang lain.

Di Padang Atha remaja berkenalan dengan organisasi, di kota iniah beliau mula-mula berkenalan dengan berbagai bentuk faham dan perjuangan kebangsaan, dan di Padanglah visinya tentang republik ini mulai tumbuh mencari bentuk.

Lahir dan tumbuh di tengah-tengah keluarga saudagar telah mendatangkan keinsyafan padanya. Mendirikan sebuah Negara merdeka adalah perkara yang pertama, menghidupi Negara tersebut adalah tugas berikutnya. Bagaimana negara akan hidup, tegak berdiri sejajar dengan bangsa lain kalau ekonominya tak ada.

Betawi adalah kota yang memberi arah baru bagi perkembangan jiwa kebangsaannya dan juga pemahamannya tentang ekomomi. Di Padang tinggal bersama ayah tiri dan keluarga Pak Gaeknya,[12] yang kedua-duanya saudagar. Sedangkan di Betawi beliau diasuh oleh Mak Etek Ayub yang merupakan salah seorang saudagar besar di kota itu.

Di Betawi pula ia mendapat banyak pelajaran tentang kebangsaan memalui organisasi yang digelutinya, Jong Sumateranen Bond. Bertukar fikiran dengan tokoh-tokoh utama pergerakan kebangsaan telah mengkristal dalam benaknya. Salah satu yang tak terlupakan ialah dengan Haji Agus Salim - The Great Oldman[13] - Atha mendapat pemaparan yang jelas tentang Sosialisme[14] yang telah ada jauh sebelum ditemukan dan diberi nama oleh filsuf Barat. Nilai-nilai tersebut telah termaktub dalam ajaran Syari’at Islam, tentunya tanpa ide-ide matrealisme[15] yang berujung pada Ateisme.[16]

Negeri Belanda, sebuah negeri yang memberi dampak besar terhadap perjalanan sejarah bangsanya menjadi negeri dimana semangat kebangsaannya mulai mengental. Perhimpunan Indonesia yang semula dibina oleh pendahulunya perlahan-lahan menjadi alat propaganda efektif dibawah kepempimpinannya. “Indonesia Merdeka” demikian pembelaannya tatkala di sidang di Negeri Kompeni.[17]

Setelah menyelesaikan pendidikan, ‘Athar memutuskan pulang, bukan ke Bukittinggi kota kelahirannya ataupun Padang yang merupakan dua kota utama di Pulau Sumatera saat itu. Ia menuju ke Betawi, jantung penjajahan terhadap Indonesia berada. Di kota itu, ia akan populer dengan panggilan Bung Hatta.

 

Hidup Beradat

Minangkabau ialah federasi, kekuasaan raja hanya berada di Nagari Pagaruyung.[18] Namun marwah sang raja melebihi batas-batas dari Minangkabau itu sendiri. Masyarakat Minangkabau hidup dalam keteraturan adat, adat mereka berlandaskan kepada musyawarah-mufakat dimana yang menjadi “raja sejati”[19] di Minangkabau ialah keputusan yang didapat dari musyawarah-mufakat tersebut.

Minangkabau – layaknya Negeri Melayu lainnya – memiliki berbagai macam pepatah-petitih. Salah satunya ialah “Yang Kurik, Kundi, Yang Merah Saga. Yang Baik Budi, Yang Indah Baso” dan setiap anak Minangkabau yang mendapat pengajaran yang baik (dalam adat & agama) akan hidup dengan ajaran tersebut.

Baso  banyak diterjemahkan sebagai Bahasa namun sesungguhnya berlainan. Bahasa hanyalah salah satu unsur dalam Baso tersebut, yang lain ialah tingkah laku, sopan santun atau etika, baik dalam pergaulan di rumah tangga ataupun dengan masyarakat. Budi-bahasa yaitu keindahan dan kehalusan tutur kata dan yang terpenting ialah kepandaian membaca keadaan sehingga tahu memperlakukan orang yang berbeda di tengah situasi yang berbeda-beda pula.

Jejak-jejak pengajaran adat dan agama tersebut dapat terlihat pada setiap watak dan tabiat anak-anak Minangkabau. Beraja ke mufakat misalnya dimana setiap persoalan dimufakatkan terlebih dahulu untuk mendapat jalan keluar. Mufakat tersebut tidak memakai sistem voting[20] melainkan mengedepankan azas kekeluargaan. Hasil dari permufakatan tersebutlah yang dijadikan acuan dan wajib untuk dilaksanakan yang diumpamakan di Minangkabau dengan “Titah Raja”.

Ada juga pengajaran orang tua-tua di Minangkabau “Fikirkan dahulu apa yang hendak engkau katakana namun jangan engkau katakana apa yang sedang terfikirkan.”. Maknanya segala ucapan dan perbuatan kita hendaknya disensor terlebih dahulu, ditimbang baik-buruk, orang yang akan tersinggung, atau terlalu keras/kasar atau tidak.

Pengajaran lainnya misalnya raso jo pareso yang pada saat sekarang telah banyak ditinggalkan orang lain. Anak dipangku, kamanakan dibimbing, orang kampung dipertenggangkan. Maksudnya kita mesti berjiwa halus atau sensitif kata orang sekarang. Sensitifitas terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan serta alam sekitar. Berfikir panjang, jangan hanya memikirkan masa kini. Ditimbang apakah orang lain akan tersinggung atau bahkan terzhalimi akibat ucapan atau perbuatan kita. Memperlakukan setiap orang sesuai porsi mereka, dan ini merupakan yang tersulit karena kita mesti benar-benar memahami setiap manusia yang kita hadapi.

Walau jauh dari Minangkabau, jauh dari kampung halaman, Bung Hatta tidak kehilangan jati dirinya sebagai anak Minangkabau. Ia telah mempraktekkan bagaimana hidup dengan adat, hidup dengan syari’at. Bagaimana teguh imannya menjauhi godaan, kita tentu pernah mendengar kisahnya di Belanda yang dikerjai oleh kawan-kawannya dengan perempuan asal Polandia. Atau kesaksian Soekarno tatkala Bung Hatta ditinggalkan berdua di dalam mobil yang mogok dengan seorang gadis.[21]

Perpanjang fikiran, demikian kata orang dahulu dan tahu dengan raso jo pareso. Beliau pernah menegur anaknya Gemala karena memakai kertas Konsulat Jenderal tatkala melakukan surat menyurat pribadi dengan dirinya. Beliau juga tetap membayarkan uang kuliah anaknya walau tahu bahwa anak-anak proklamator mendapat kebebasan biaya kuliah.

Layaknya orang Minangkabau yang amat cinta akan kucing, beliau juga sangat sayang dengan kucing. Kebiasaan orang tua zaman dahulu, selesai makan malam maka mereka akan segera mengumpulkan nasi sisa, mencampurnya dengan sisa makanan dari setiap piring dan menambahinya dengan makanan lain seadanya lalu diberikan kepada kucing yang sudah siap sedia menanti waktu makan malamnya. Waktu makan malam kucing ialah sesudah makan malam majikannya.

Sebanarnya bagi orang Minangkabau yang hidup dengan Adat, matanya akan dapat melihat setiap gerak dari Bung Hatta tidak lepas dari pengajaran adat dan syari’at. Akan halnya syari’at yang tak diwariskan, Minangkabau itu ialah cara hidup, The Way of Life yang juga tak diwariskan melain dijemput (dipelajari & diamalkan) oleh anak kamanakan Minangkabau.

Sosialisme yang kita dapati menjiwai semangat perjuangnnya lahir dan tumbuh di Minangkabau dan mendapat bentuk di Negeri Belanda.

Islam dan Minangkabau tidak mengenal strata sosial yang bertingkat. Status seseorang seperti Penghulu yang menjadi pemimpin di Minangkabau bukanlah golongan bangsawan  atau orang yang dilayani, justeru sebaliknya merupakan “Orang yang Melayani”. Sebagai upah dari pelayanannya tersebut para Penghulu mendapat abuan baik itu berupa ladang ataupun sawah yang diberikan hak guna/ hak pakai oleh para kamanakannya karena sang mamak tidak memiliki waktu lagi untuk menafkahi anak dan isterinya. Sawah dan ladang tersebutlah yang nanti akan kembali (diwarisi) ke kamanakannya.

Demikianlah, pekerjaan pemimpin ialah pekerjaan pelayan, pekerjaan menderita. Dan itulah yang dilakoni Bung Hatta hingg akhir hayatnya.

 

Bukittinggi, Jumadil Akhir 1441

Desember 2019

Sutan Nagari Basa

 

  

Daftar Bacaan

 

Farida, Meutia. dkk. Bung Hatta; di Mata Tiga Putrinya. Jakarta. Kopas Gramedia, 2015

Hatta, Mohammad. Untuk Negeriku. Jilid.1. Jakarta: Penerbit Buku Kompas; Cetakan. VIII, 2018

______________________. Untuk Negeriku. Jilid.2. Jakarta: Penerbit Buku Kompas; Cetakan. VIII, 2018

_____________________. Untuk Negeriku. Jilid 3. Jakarta: Penerbit Buku Kompas; Cetakan. VIII, 2018

Pandu, Martias. Kepingan Kehidupan Pribadi Dr. Mohammad Hatta. Dept. P dan K Sumbar. Padang, 1976

Tim Museum Kepresiden Balai Kirti. Pengkajian Terkait Kehidupan Masa Kecil Wakil Presiden Mohammad Hatta. Jakarta, 2017

Zulkifli, Arif. Dkk (penyunting). HATTA: Jejak yang Melampaui Zaman. Jakarta. Kepustakaan Populer Gramedia. 2017

 

 

 

 

Catatan Kaki:

[1] Nagari Batu Ampa, Luhak Limo Puluah Koto. Sekarang termasuk ke dalam wilayah administratif Kabupaten Lima Puluh Kota

[2] Sebuah kampung yang pada masa dahulu dikelilingi oleh kawasan persawahan di Kota Bukittinggi. Pada saat sekarang berada dalam wilayah Kelurahan Tengah Sawah Kec. Guguak Panjang

[3] Hatta. Memoir: Untuk Negeriku;Jilid I. Kompas Cetakan ke-8. Jakarta, 2018 (Hal: 29 s/d 35)

[4] Kitab Kejadian, dimana Allah Ta’ala menuliskan seluruh detail kejadian yang terjadi di alam semesta.

[5] Op cit. Hal.39-40

[6] Betawi dalam lidah Melayu, Batavia nama asalnya. Berasal dari nama Suku Batavi yang merupakan suku Jermanik Kuno yang tinggal di wilayah delta Sungai Rhein di Belanda.

[7] Berasal dari kata Compagnie dalam Bahasa Belanda yang berarti “perusahaan” yang mengacu kepada VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Dalam lidah orang Melayu menjadi Kompeni yang kemudian menjadi panggilan terhadap orang Kulit Putih yang datang untuk menjajah.

[8] Dikenal juga dengan “Pemberontakan Pajak”, Perang yang terjadi pada tanggal 15 Juni 1908 di Nagari Kamang yang berjarak 15 Km dari Bukittinggi. Perang ini terjadi karena penolakan rakyat terhadap aturan baru berupa penetapan pajak (belasting) terhadap penduduk Minangkabau yang dipandang oleh rakyat Minangkabau sebagai pengkhianatan terhadap Perjanjian Plakat Panjang yang dikeluarkan Belanda guna mengakhiri perlawanan rakyat Minangkabau dalam Perang Paderi.

[9] Saudara lelaki ibu, Minangkabau

[10] Hatta. Untuk Negeriku; Jilid I. Kompas. Jakarta. Cetakan VIII.2018 (Hal.14)

[11] Minangkabau diislamkan, tidak ada kelompok yang lebih kuat keagama atau keadat . Adat dan agama dipelajari beriringan sehingga tersua yang dikatakan falsafah “Adat Basandi Syara’ – Syara’ Basandi Kitabullah”

[12] Bung Hatta memanggil inyiak/datuk atau kakeknya dengan panggilan Pak Gaek dan nenek dengan panggilan Mak Gaek. Di Padang, Pak Gaek menikah lagi dimana hal tersebut mendatangkan polemik tersendiri dalam jiwa muda Bung Hatta. (Hatta. Untuk Negeriku. Jilid I. Hal.41)

[13] Julukan bagi Haji Agus Salim

[14] Ajaran yang memiliki pemikiran dasar persamaan antara umat manusia, pengelolaan ekonomi yang berbasis kerakyatan.

[15] Pemikiran yang berlandaskan materi, nyata, tampak, dapat dijangkau oleh logika akal.

[16] Faham yang menafikan adanya Tuhan

[17] Indonesia Vrij, merupakan judul pledoi pembelaannya di hadapan Pengadilan Belanda karena dituduh melakukan tindakan Makar (Hatta. Untuk Negeriku. Jilid I. Hal.291)

[18] Terletak di Luhak Tanah Data atau sekarang berada dalam wilayah administratif Kabupaten Tanah Datar. Tidak jauh dari Batusangkar

[19] Kamanakan beraja ke mamak, mamak beraja ke penghulu, penghulu beraja ke Musyawarah & Mufakat, Musyawarah & Mufakat beraja ke Yang Benar. Apa itu Yang Benar? Yang Benar itu ialah Allah Ta’ala yang termaktub dalam Al Qur’an & Hadist. Maka bersualah disini falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

[20] Pemungutan suara

[21] Di Belanda beliau mendapat janji temu dengan kawannya pada sebuah kafe, namun kawannya tak pernah datang melainkan seorang gadis Eropa yang elok parasnya. Si Gadis mencoba merayu Bung Hatta tapi gagal. Sedangkan kawan-kawannya mengintai dari jauh. Si Gadis berujar kepada kawan Bung Hatta “Entah kawan kalian seorang pendeta atau ia beriman kuat, atau hidup selibat..” Soekarno pernah meninggalkan Bung Hatta di malam hari dalam sebuah mobil yang mogok. Disaat Soekarno dan sopir kembali, mereka mendapati Bung Hatta tertidur sedangkan di sudut yang lain si perempuan duduk termenung.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

29. Wisma Anggrek

13. Batu Kurai Limo Jorong

Garis Waktu Bukittinggi