Bahasa Menentukan Bangsa

 


Ada apa dengan sastra Negeri Melayu? bahasa daerah mulai hilang popularitasnya di zaman yang modern ini. Bahkan, peranannya dalam membudayakan tradisi pun semakin tidak dipandang sebagai sesuatu yang 'Wah'. Sejatinya, sastra terlahir karena budaya. Begitu juga sebaliknya, sastra punah karena budaya itu punah.
 
"Bahasa Menentukan Bangsa"
"Bahasa Jiwa Peradaban"

Puisi, pantun, maupun cerita pendek yang berkembang pesat di zaman canggih ini, semua itu karena ada sumbangsih Sastra Melayu. Semenjak puisi dan cerpen menjadi perbincangan dewasa ini, sastra Melayu telah melahirkan itu semua, baik dalam puisi, pantun, maupun cerita rakyat. Dengan membawa sastra Melayu ke dunia perpuisian, kita juga dapat menikmati pertunjukan puisi itu dengan musik tradisional seperti yang pernah dilakukan masyarakat Minangkabau (yang menjadikan Bahasa Melayu sebagai bahasa tulis)[1] yang menjadikannya sebagai penghibur atau pengisi dalam upacara adat di zaman dulu.

Sebagai bangsa Indonesia, Sudah saatnya kita lebih menjunjung tinggi sastra Melayu yang merupakan Bahasa Resmi Negara karena bagaimanapun, sastra Melayu tidak boleh terlepas dari tradisi kebudayaan suku masing-masing.
 
Untuk dapat mengembalikan popularitas sastra Melayu dalam dunia modern, perlu ditekankan kepada penulis-penulis muda untuk lebih mengembangkan budaya lewat tulisan. Mengembangkan budaya lewat sastra merupakan sumbangan yang paling baik agar dapat meningkatkan sastra-sastra Melayu yang kini mematung bisu di tengah peradaban dan hanya dijadikan potret senja masa lalu.
 
Disalin dari IG: pkd.sumbar 

Catatan kaki oleh Admin:
 
[1] Orang Minangkabau apabila bercakap menggunakan Bahasa Minang sedang apabila menulis menggunakan Bahasa Melayu. Hampir sebagian besar teks/naskah Minangkabau berbahasa Melayu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

29. Wisma Anggrek

13. Batu Kurai Limo Jorong

Garis Waktu Bukittinggi