Terminal Pasa Banto
Foto ini disalin dari kiriman IG Minang_Heritage yang memuat keterangan tahun 1977. Menggambarkan suasana pada sebuah terminal di Bukittinggi. Di kejauhan sana tampak Gunung Singgalang mengintip dari balik gonjong.
Sepertinya suasana pada pagi hari yang direkam oleh lensa, belum tampak sibuk betul orang diterminal ini. Tampak dua orang perempuan berok pendek, suatu pemandangan yang janggal bagi orang Minangkabau yang katanya penganut Islam yang taat.
Namun bagi yang hidup pada masa itu atau mengalami hidup di bawah rezim Orde Baru, tidak akan begitu heran. Karena pada masa itu penggunaan Hijab dilarang dan gaya perempuan perempuan masa itu ialah menggunakan baju dengan rok pendek hingga tampak betis dan tak jarang juga bahu, ketiak, dan belahan dada.
Tidak dapat ditegah apalagi dilarang, keadaan pada masa itu tak mengizinkan. Namun bagi penduduk yang tinggal di kampung-kampung, penggunaan baju kurung masih dipertahankan walau sebagian dari mereka tak memakai tingkuluak/karuduang (hijab) melainkan hanya dijadikan sebagai hiasan berupa selendang sahaja. Namun sebagian lain tetap mengamalkan, menutup aurat dari tingkuluak hingga lilik.
Sekarang mari kita perbincangkan gambar yang sangat menawan ini. Menurut hemat kami, ini merupakan tangkapan lensa di Terminal Pasa Banto sekarang, tengoklah gerbang Janjang Ampek Puluah (No.1) nun jauh disana. Geser pandangan anda ke kiri,belum ada Pasa Putiah dan kemungkinan yang dilingkari (No.2) ialah Los Maco
Dan tengok dilereng tebing (No.3), masih adakah banguna itu kini?
Gerobak (No.4) serupa yang dibawa oleh engku-engku itu sudah tiada kini. Seperti itulah wujud dari gerobak yang lazim digunakan orang dahulu di Minangkabau ini. Dibuat sendiri, dari kayu.
Tengok pula oto kerajaan yang katanya "Legend" itu. Kini oto bus serupa itu sudah tak lagi tampak. Kalau dikuburkan, entah dimana dikuburkan.
Find us on:
Komentar
Posting Komentar