Suntiang Marapulai
Suntiang yang dipakai Marapulai (mempelai laki-laki) coraknya berbeda dengan suntiang yang dipakai Anak Daro (mempelai perempuan). Suntiang yang dipakai Marapulai tinggi lonjongnya lebih rendah dibandingkan dengan suntiang Anak Daro. Kemudian, lebarnya pun lebih kecil ketimbang suntiang Anak Daro.
Corak pernak pernik suntiang marapulai lebih besar motifnya dibandingkan dengan suntiang Anak Daro. Hal ini menunjukkan bahwa sosok seorang lelaki yang memiliki prinsip dan tegas dalam membina rumah tangga. Sedangkan suntiang Anak Daro motifnya lebih halus, mencerminkan sifat dan kelembutan hati seorang perempuan. Marapulai memakaian suntiang tersebut untuk mengahargai marwah ninik mamak dan datuak, karena marapulai tidak memakai saluak saat resepsi pernikahan. Sebab, suntiang adalah bentuk kemegahan dan identitas diri sebagai urang sumando bagi mamak rumah.
Marapulai (pengantin laki-laki) memakai Suntiang atau rias yang dikenakan saat arak-arakan turun dari rumah bako atau disebut juga turun bako. Turun bako ini mempelai dibawa kerumah bako (etek: Saudari Perempuan ayah bagi mempelai) untuk di rias mengenakan pakaian pengantin. Arak-arakan kedua mempelai tersebut diiringi dengan Badiki (berzikir) atau berzanji dengan menambuh rebana yang merupakan musik tradisi yang turun termurun sejak agama Islam masuk ke Inderapura.
Apo juo yang sanak tunggu lai!
Yuk sebarkan info budaya awak!
Disalin dari IG Budaya Awak
Komentar
Posting Komentar