Kenapa harus ada Dikhotomi itu?!

 


Bukanlah berniat reaktif terhadap isu yang sedang menghangat di kalangan para seniman akhir-akhir ini. Tapi sejak awal saya tidak fahammengapa ada dikhotomi antara Seniman Tradisional dan Seniman Modern, bahkan ada pula Seniman Akademisi. 

Mungkin karena dimulai oleh upaya pendikhotomian Kesenian Tradisional dengan Kesenian Moderen, maka lahir pulalah dikhotomi antara Seniman Tradisional dan Seniman Moderen, bahkan muncul pula Seniman Akademisi. Entah apalah defenisinya, saya tidak faham dan tidak mau berfikir untuk memahaminya. 

Soal penamaan dan pelabelan, terserah saja. Asalkan berterima di tengah masyarakat, namun yang penting adalah esensinya. Karena tidak melihat adanya urgensi esensial, secara tegas saya menolak adanya dikhotomi antara Kebudayaan Moderen dan Kebudayaan Tradisional. Apalagi muncul istilah Kebudayaan Akademisi. 

Artinya tidak perlu adanya membedakan Kesenian Tradisional dari Kesenian Moderen, Seniman Tradisional dan Seniman Moderen. Untuk apa itu? 

Walaupun istilah 'Moderen" telah muncul pada pertengahan Abad Ke-16 (1580an)  untuk mengungkapkan makna kekinian pretaining to present or recent times atau up to date. Yang dikontras kan dengan kata atau istilah ancient (kuno), istilah ini tidak populer sampai pertengahan Abad Ke-19. Saat dimana Charles Baudelaire memperkenalkan istilah 'Modernite' dalam esainya yang berjudul The Painter Modern Life pada tahun 1864.

Baudelaire menggunakan istilah tersebut untuk mengungkapkan pengalaman hidupnya di tengah kota yang terlalu cepat usai. Sementara tugas seniman untuk menggambarkan pengalamannya belum selesai. 

Nikolas Kompridis pada tahun 2006 mengungkapkan bahwa istilah 'Modernite' yaitu yang digunakan oleh Baudelaire tersebut mengacu pada hubungan pengalaman hidup dengan waktu. Hubungan yang ditandai oleh terputusnya seseorang dengan masa lalu. Keterbukaan terhadap hal-hal baru pada masa depan dan meningkatnya kesadaran pada hal-hal unik pada masa kini. 

Konsep 'modernite' ditawarkan sebagai kritik, perlawanan, dan penolakan terhadap kehidupan tradisional karena menawarkan soslusi terhadap kejenuhan terhadap kehidupan tradisional, konsep 'modernite' menjadi pandemi tatkala itu. Menular dan berkembang secepat kilat.

Gagasan yang sangat mengedepankan kebebasan, kesetaraan, individualisme, dan rasionalisme tersebut tumbuh bak cendawan di musim hujan. 

Keyakinan terhadap kemajuan kehidupan sosial, politik, ekonomi, industri, ilmu pengetahuan, teknologi, dan seterusnya. Mendorong semuanya berbondong-bondong memakai label MODERN. Mulai dari kehidupan rumah tangga sampai pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Mulai dari cara berbicara, sampai kepada cara beragama. Na'uzubillahiminzalik.

Ketika gagasan modernitas hanya menawarkan mimpi perbaikan peradaban semuanya kembali berbondong-bondong mencari jalan baru, setelah berpusing lima keliling belum juga sampai pada tujuan. Ternyata mereka menemukan kembali jalan lama yang sudah biasa mereka tempuh. Muncul hasrat untuk Back to Nature, "Kembali Ke Janda Lama". Yang selama ini ternyata telah menyuguhkan kedamaian, keindahan, dan ketenangan bathinnya.

Para pengagum modernitas kini mulai tersipu-sipu malu dan lucu saja rasa-rasanya ingin Kembali ke Janda Lama. Tapi "Gengsi Ah.."

Kalau diteruskan jalan baru ini, mereka tahu persis bahwa mereka tidak akan sampai pada tujuannya. (6.30)

Selengkapnya silahkan tonton di Kanal Youtube DidiTV

Find Us On: linktr.ee/kebudayaan




Komentar

Postingan populer dari blog ini

29. Wisma Anggrek

13. Batu Kurai Limo Jorong

Garis Waktu Bukittinggi