57. Janjang Syech Bantam

 

Sumber: bukittinggikota.sikn.go.id

No. Registrasi Nasional: PO2016072700099

Janjang Syech demikian masyarakat Kota Bukittinggi menyebutnya. Keberadaan janjang ini tidak dapat dilepaskan dengan keberadaan surau kecil yang terletak hanya beberapa meter dari janjang ini, di kaki tebing. Surau itu bernama Surau Syech Bantam.

Belum ada kajian khusus mengenai janjang dan surau ini. Namun dari penelusuran beberapa wartawan  dan warganet, diketahui beberapa fakta yang dapat dijadikan rujukan sementara.

Bantam merupakan penyebutan untuk Banten atau dulu lebih dikenal dengan nama Bantam. Syech sendiri merupakan panggilan kepada ulama bagi masyarakat Minangkabau, selain beberapa panggilan lain (Tuanku & Buya). 

Beliau merupakan seorang pejuang Bantam yang terlibat dalam Pemberontakan Cilegon 1888  yang dibuang oleh Belanda ke Bukittinggi. Nama beliau ialah Moehammad Khariz bin Moezafar. Di Bukittinggi beliau mendapat hibah tanah dari H. Abdurrahman yang merupakan ninik mamak Suku Pisang.

Selama berada di Bukittinggi beliau giat melakukan dakwah dan mendidik anak-anak. Lazimnya orang Minangkabau masa itu yang memanggil seorang ulama dengan panggilan Syech serta menisbatkan tanah kelahiran di belakang nama sang ulama tersebut. Maka dipanggillah beliau dengan panggilan Sych Bantam.

Pada tahun 1890 Syech Bantam menikah dengan perempuan Minangkabau yang bernama Hj. Fatimah yang berasal dari Kapa, Nagari Sasak (Kabupaten Pasaman Barat sekarang). Dari pernikahan tersebut beliau dikarunia 7 (tujuh) orang anak.

Link Terkait lainnya: dapobud.kemdikbud.go.id 

Baca juga:

  1. Surau Inyiak Syekh Bantam - Minangkabau News
  2. Tahukah anda Surau Nyiak Syekh Bantam - Youtube
  3. Geger Cilegon 9 Juli 1888: Perlawanan Rakyat Banten terhadap Pemerintahan Zalim - faktabanten.co.id
  4. Surau Syekh Inyiak Bantam - The Peace Dreamland of Minangkabau











Komentar

Postingan populer dari blog ini

29. Wisma Anggrek

13. Batu Kurai Limo Jorong

Garis Waktu Bukittinggi