36. RUMAH TINGGAL JL. MANDIANGIN NO. 28
Rumah ini dibangun pada tahun 1925 dan selesai pada tahun 1926 oleh Abdul
Manan seorang ofziener (penilik). Bangunan dengan
arsitektur kolonial masih terlihat pada bagian gable, dinding, arch
sholdered. Bangunan ini telah mengalami beberapa perubahan dibeberapa
bagian seperti pintu masuk dan teras yang dibuat pada tahun 1990.
Bangunan ini
terdiri dari ruang tamu, ruang tengah, dan 3 buah kamar tidur (2 buah berada di
ruang ruang tengah dan 1 kamar berada di ruang tamu). Bangunan ini berdenah
persegi panjang dengan ukuran 20,5 x 13,8 m (282,9 m²).
Bangunan dengan arsitektur kolonial masih terlihat pada bagian gable, dinding, arch sholdered. Bangunan ini telah mengalami beberapa perubahan dibeberapa bagian seperti pintu masuk dan teras yang dibuat pada tahun 1990. Bangunan ini terdiri dari ruang tamu, ruang tengah, dan 3 buah kamar tidur (2 buah berada di ruang ruang tengah dan 1 kamar berada di ruang tamu). Pada tahun 1950-an di bangun sebuah dapur dan lorong untuk menghubungkan dapur dengan ruang utama. Di bagian belakang bangunan rumah ini terdapat bekas pondasi bangunan, menurut pemilik rumah, pondasi tersebut merupakan rumah kayu yang dipergunakan sebagai rumah kusir bendi. Pada saat itu kendaraan yang dipergunakan adalah bendi. Pada bagian atap terdapat ventilasi berbentuk jendela. Atap bangunan berbentuk limasan. Lantai bangunan berupa plesteran tanpa ubin tegel.
Bangunan dengan arsitektur kolonial masih terlihat pada bagian gable, dinding, arch sholdered. Bangunan ini telah mengalami beberapa perubahan dibeberapa bagian seperti pintu masuk dan teras yang dibuat pada tahun 1990. Bangunan ini terdiri dari ruang tamu, ruang tengah, dan 3 buah kamar tidur (2 buah berada di ruang ruang tengah dan 1 kamar berada di ruang tamu). Pada tahun 1950-an di bangun sebuah dapur dan lorong untuk menghubungkan dapur dengan ruang utama. Di bagian belakang bangunan rumah ini terdapat bekas pondasi bangunan, menurut pemilik rumah, pondasi tersebut merupakan rumah kayu yang dipergunakan sebagai rumah kusir bendi. Pada saat itu kendaraan yang dipergunakan adalah bendi. Pada bagian atap terdapat ventilasi berbentuk jendela. Atap bangunan berbentuk limasan. Lantai bangunan berupa plesteran tanpa ubin tegel.
Komentar
Posting Komentar