BUKITTINGGI DAN TANGGAL 11 MARET-NYA
Oleh : Melfi Abra*
Diterbitkan 10 Juli 2015 di blog: melfiabra.wordpress.com
Sebelas Maret bagi Kota Bukittinggi selain sebagai peringatan Supersemar atau Surat Perintah Sebelas Maret atau peristiwa pemberian Surat yang berisi perintah dan menginstruksikan Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib) tahun 1966
untuk mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi
situasi keamanan yang buruk pada saat itu. Terlepas dari penggalan
sejarah dan kontroversialnya, Bukittinggi punya cerita sejarah sendiri
dengan Sebelas Maret-nya. Dimana 11 Maret 1984, adalah hari
dicanangkannya Bukittinggi sebagai Kota Wisata. Tanggal 11 Maret 2015
lalu, adalah peringatan ke 31 tahun pencanangan tersebut. Dicanangkan
oleh Gubernur Sumbar kala itu Ir.H.Azwar Anas, dan dihadiri oleh Dirjen
Pariwisata dari Kementrian Parpostel 31 tahun lalu.
Peringatan Hari Ulang Tahun tersebut diperingati pertama kalinya
setelah 30 tahun Bukittinggi dicanangkan sebagai Kota Wisata, yakni
tahun 2014 lalu . Kenapa demikian ? Penulis melihat bahwa selama 30
tahun telah terjadi peralihan 3 generasi, perobahan pandangan dan
menyikapi perkembangan Bukittinggi sebagai Kota Wisata dari berbagai
stakeholder.
Sepuluh tahun pertama, (1984-1993) pemahaman masyarakat dan aparat terhadap Bukittinggi Sebagai Pariwisata masih euforia,
semua kegiatan yang menyangkut pariwisata, pembangunan, dan
kemasyarakatan dipahami hampir tak ada deviasi. Pariwisata berkembang
pesat, sehingga bermunculan sanggar-sanggar, jumlah kunjungan
mancanegarapun meningkat, hotel-hotel dan homestay mulai semakin banyak
didirikan. Kota Kembar (sister cities)
Bukittinggi-Seremban juga menjadi ajang diplomasi budaya dan kesenian,
kepariwisataan, industri/kerajinan, kerjasama perdagangan, pendidikan
dan kepemudaan.
Pembinaan Kepariwisataan waktu itu dikawal melalui Cabang Dinas
Pariwisata Sumatera Barat. Sarana dan Prsarana seperti Medan nan Bapaneh
dan Medan nan Balinduang dibangun, pembenahan dan pembangunan sarana di
objek-objek wisata dan hubungan dengan mitra kerja seperti HPI
(Himpunan Pramuwisata Indonesia), PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran
Indonesia) , ASITA (Association of the Indonesian Tours and Travel
Agencies). Geliat Pariwisata Bukittinggi semakin tinggi dinamisasinya
sejak ditetapkan sebagai kota Wisata dan sekaligus Kota Tujuan Wisata
Propinsi Sumatera Barat , dan pada tanggal 11 Maret 1984 Bukittinggi
dicanangkan sebagai Kota Wisata dan Daerah Tujuan Wisata Utama di
Sumatera Barat. Kemudian pada bulan Oktober 1987 ditetapkan sebagai
daerah Pengembangan Pariwisata Propinsi Sumatera Barat dengan Perda
Nomor 25 tahun 1987.
Namun 10 tahun ke dua, (1994-2003) mulai agak memudar, karena
kegiatan dan kehidupan kepariwisataan di Bukittinggi berjalan bagaikan
rutinitas dan mulai berjalan sendiri-sendiri dengan arah
sendiri-sendiri, baik pelaku pariwisata, masyarakat dan aparatur.
Apalagi ketika terjadinya krisis multidimensi
tahun 1997-1998, Kepariwisataan di Bukittinggi bagaikan hilang arah.
Walaupun tetap berjalan dengan pesat namun kesatuan visioner untuk
membangun dunia kepariwisatan mulai bercabang. Maka di 10 Tahun ke 2
tersebut diformat ulang melalui kegiatan PEDATI (Pameran Seni Dagang dan
Industri ) yang berlangsung setiap tahun mulai tahun 2001 sampai tahun
2011. Metode promosi mulai dilakukan dengan Safari Lintas Wisata ke
berbagai daerah dan luar negeri, delegasi kesenian dan budaya digerakkan
untuk membangun opini dan promosi wisata Bukittinggi.
Dengan diberlakukannya Otonomi Daerah berdasarkan UU No 22 Tahun
1999, maka di tahun 2001 dibentuklah Kantor Pengelola Pariwisata. Maka
mulai sejak 2001 sampai 2004 dilakukan revitalisasi besar-besaran
terhadap objek wisata Bukittinggi seperti Panorama dan Lobang Jepang,
Kawasan Jam Gadang, Benteng Fort de Cock, Pembangunan Meseum Zoologi,
Pembangunan Perpustaakan Proklamator Bung Hatta, Janjang 40, Pembuatan
Medan nan Bapaneh di Panorama, Pembangunan Kawasan Kantor Walikota Baru
di Gulai Bancah, Revitalisasi Makam Pahlawan, dan lain-lain.
Di 10 Tahun ke 3, (2004-2013) diperlukan kembali evaluasi bagaimana
menata ulang pengelolaan pariwisata ke depan, seiring dengan
perkembangan teknologi informasi, persaingan usaha jasa, dan menghadapi
perekonomian global yang sudah sudah merobah wajah dan sistem dunia.
Dalam dekade ini tumbuh dan berkembang objek-objek wisata baru sebagai
“pesaing” Bukittinggi sebagai Kota Wisata. Padang Panjang berkembang
setelah direvitalisasinya kawasan Minangkabau Village menjadi objek
wisata modern Minang Fantasi, Kota Sawahlunto dengan Kota Wisata Tambang
dan Berbudaya, dan kota/kabupaten lain yang berlomba-lomba
mempromosikan objek wisatanya, apalagi setelah even Internasional Tour
de Singkarak yang melibatkan beberapa Daerah di Sumbar ke dalam rote dan
etape TDS tersebut, maka semakin terbukalah bahwa Sumbar itu punya
banyak potensi yang bisa dikembangkan. Sehingga Pariwisata Bukittinggi,
merasa terpicu adrenalin-nya untuk terus berbenah, karena Bukittinggi bukan lagi pemain tunggal Pariwisata di Sumbar.
Dalam Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 13 Tahun 2012
Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Sumatera Barat Tahun 2012 –
2032 disebutkan bahwa Rencana pengembangan kawasan pariwisata dalam
Pasal 43 disebutkan bahwa: Destinasi Pengembangan Pariwisata (DPP) yang
terdiri dari 7 koridor, dimana DPP I, meliputi karidor Kota Bukittinggi,
Kabupaten Agam, Kabupaten Pasaman, Kabupaten Limapuluh Kota, dan Kota
Payakumbuh.Dominasi atraksi adalah budaya, belanja, MICE, kerajinan,
kesenian,peninggalan sejarah, danau, pegunungan, serta flora dan fauna
dengan pusat layanan di Kota Bukittinggi.
Di akhir Januari 2013, diresmikan Janjang Koto Gadang yang selesai
direvitalisasi oleh Tokoh Minang di Parantauan dibawah koordinator Tifatul Sembiring yang waktu itu masih menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika, janjang tersebut kemudian terkenal juga dengan Great Wall of Koto Gadang.
Ini adalah objek wisata baru yang mendapat respon luar biasa dari
masyarakat pencinta traveling. Kemudian tidak puas sampai di situ, di
akhir tahun 2013, muncul lagi destinasi baru lainnya berupa objek wisata
revitalisasi dari Janjang Saribu.
Namun kedua objek wisata di kawasan Ngarai tersebut masih perlu
pembenahan pengelolaan yang lebih baik. Penulis cendrung menyarankan
kira objek wisata yang merupakan tanah ulayat tersebut dikelola secara
profesional oleh Badan Pengelola yang terdiri dari pemilik tanah, yang
dikoordinir oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat setempat.
Badan pengelola tersebut disyahkan dengan akte notaris, kemudian
diberikan kewenangan untuk mengelola uang masuk ke objek, parkir,
kebersihan, penataan pedagang, kerjasama dengan pihak ke tiga yang akan
membuat even dalam objek kawasan pengelolaannya, serta membentuk
sekretariat pengelola. Kemudian setiap tahunnya di audit oleh akuntan
publik. Setelah dana yang dikelola dikeluarkan untuk biaya operasional
dan kebutuhan sekretariat (termasuk gaji karyawannya), maka akan
didapatlah devident (pembagian keuntungan)
buat pemilik tanah di kawasan yang dikelola badan tersebut. Penulis
berharap, pada suatu saat ide pengelolaan berbasis masyarakat ini dapat
terwujud, dengan harapan masyarakat setempat menjadi penerima manfaat
dari pengembangan objek wisata kawasan Ngarai Sianok tersebut.
Namun amat disayangkan, sebelum Badan Pengelola tersebut terbentuk,
sebagian sarana pengembangan di Janjang Saribu dan Janjang Koto Gadang
tersebut seperti lampu-lampu solar cell, anak tangga, pergola, tanaman
penghijauannya telah dirusak oleh pengunjung dan masyarakat yang tidak
satu visi dengan arti penting kepariwisataan buat kita semua.
Melihat perkembangan kepariwisataan dunia saat ini serta dibandingkan kondisi existing
Bukittinggi, penulis melihat bahwa Bukittinggi perlu berbenah dan
membuat strategi baru dalam pengelolaan kepariwisataanya. Kepariwisataan
Bukittinggi tidak bisa dibiarkan jalan sendiri-sendiri dengan autopilot.
Kita harus format ulang bagaimana kita menyikapi dan semua pihak harus
mengambil posisi sebagai bagian dari pengembangan pariwisata.
Namun Dekade ke 3 masih menyisakan PR bagi dekade ke 4 yakni
Pembangunan Museum Sejarah Alam Bawah Tanah (MUSSABATA) yang belum
terujud meskipun benda-benda contennya sudah disumbangkan oleh Institut
Teknologi Bandung, Universitas Goethe Germany dan museum geologi dunia
lainnya. Islamic Centre baru sebatas fondasi dan tonggak mesjidnya.
Revitalisasi Pasar Banto, dan revitalisasi sarana Parkir Wowo masih
menunggu sentuhan tangan kebijakan yang smart.
Maka memasuki dekade ke 4 (2014-2023), dimana penulis dipercayakan
sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata sejak Januari 2014,
penulis melihat perlu diadakannya evaluasi dan format ulang pengelolaan
Kepariwisataan Bukittinggi, kalau kita ingin bersaing menghadapi
kompetiter di tingkat lokal, regional maupun internasional.
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata maupun Pemerintah Daerah tidak bisa
bergerak sendiri, begitu juga mitra kerja dan pelaku pariwisata baik
yang bergerak di bidang jasa perhotelan, traveller, usaha kuliner,
assesories, atraksi budaya dan seni, serta masyarakat sekitar objek
wisata yang bersentuhan langsung dengan pariwisata. Semua masyarakat
baik penduduk Bukittinggi maupun pelaku usaha yang berdomisili di
Bukittinggi harus menyamakan visi dan cara pandang terhadap pengelolaan
pariwisata, serta mengambil bagian peran dalam rumah besar
“kepariwisataan”. Untuk itulah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Bukittinggi menggagas suatu gerakan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community base Tourism).
Sistem promosi wisata juga perlu ditata ulang, kita harus
menyesuaikan dengan keadaan perkembangan teknologi. Kita kembangkan
jejaring promosi melalui media massa, internet, dan sarana gadget yang
sedang mewabah lewat alat perangkat elektronik yang smart.
Artinya setiap tahapan dari pengelolaan pariwisata harus difahami
oleh semua stakeholder, termasuk masyarakat bahwa kita hidup di kota
Pariwisata, pariwisata adalah bagian dari kehidupan perekonomian dan
sosial kita. Maka marilah kita menjadi tuan rumah dan pelaku wisata yang
mempunyai landasan berfikir yang diuraikanan dalam operasional
bertindak SAPTA PESONA (Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, dan
Kenangan)
Mulai tahun 2014, HUT Pencangan Bukittinggi sebagai Kota Wisata
diperingati untuk pertama kalinya diusia yang ke 30 tahun. Tujuannya tak
lain adalah untuk mengevaluasi sejauh mana pencapaian tujuan program
Kota Bukittinggi sebagai Kota Wisata, apa yang telah diraih, apa yang
belum terlaksana, apa yang perlu dibenahi, apa dan bagaimana program ke
depannya, apa kekuatan, tantantangan, kelemahan dan peluang pembangunan
kepariwisataan ke depan seiring terjadinya pergerakan globalalisasi yang
mengharuskan kita berpikir untuk menyesuaikan dengan perkembangan di
luar lingkungan kita yang terus berubah. Kita harus move–on !
Dalam dekade ke-4 ini, telah dilakukan berupa 3 jurus pembangunan.
Pertama: pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) pengelola pariwisata,
kedua: Pembangunan Fisik, ketiga: Pembangunan Hubungan dengan Mitra
Kerja.
Ternyata, pengelola Objek wisata sejak 30 tahun yang lalu belum
pernah dilakukan pelatihan khusus tentang pengelolaan pariwisata yang
baik. SDM yang direkrut dari berbagai disiplin ilmu dan latar belakang
pengalaman di objek wisata berkembang begitu saja tanpa pelatihan. Maka
diambil kebijakan semua pengelola objek-objek wisata yang dikelola Pemda
Bukittinggi lebih kurang 90 orang diberikan pelatihan, dan diberikan
kesempatan untuk belajar dan menimba pengalaman ke beberapa objek wisata
yang dikelola secara profesional.
Dari segi fisik, Dinas Budpar Bukittinggi berusaha mempercantik wajah
sarana objek wisata. Karena terbatasnya dana yang tersedia dari APBD
sendiri, maka Budpar telah berusaha menggaet dana dari APBN, APBD
Propinsi untuk revitalisasi Taman Panorama dan Lobang Jepang,
pembangunan mushalla dan WC representatif. Kebersihan di objek-objek
wisata (Panorama dan TMSBK) telah dan akan dipihak ketigakan, dalam
rangka peningkatan pelayanan pada pengunjung WC di objek tersebut
digratiskan dan dibersihkan oleh pihak ke tiga.
Pembangunan objek wisata baru seperti Taman Ngarai Maaram, yang kini terkenal dengan jembatan selfie-nya, adalah sebuah destinasi baru untuk public area yang banyak dikunjungi warga maupun wisatawan untuk sekedar melepaskan lelah dan kegalauan-nya.
Kerja keras yang masih perlu dibangun dalam dekade ini adalah
Pembangunan Hubungan dengan Mitra Kerja. Akhir-akhir ini banyaknya
keluhan dari pengunjung adalah: WC yang tidak bersih, Parkir yang mahal,
Pemandu Wisata yang kurang profesional, transparansi harga“main pakuak
harga” oleh pedagang, kebersihan, dan sedikitnya even waktu siang maupun
malam. Ini membutuhkan pembinaan dan kerjasama yang baik.
Ke depan Budpar perlu terus berbenah, penuh kreativitas dan komitmen
dari berbagai pihak, termasuk komitmen pengambil kebijakan (desicion maker)
Anggaran Bukittinggi untuk mem-plot anggaran lebih besar yang digunakan
untuk pembinaan dengan mitra kerja, pengembangan kelembagaan seni dan
budaya, dan pelayanan di objek wisata.
Dari data yang ada, Pendapatan Asli Daerah yang dihasilkan oleh
Budpar Bukittinggi terus meningkat dan selalu mencapai target. Tahun
2013 tercapai 110 %, dan 2014 tercapai 115 % dari target Rp. 7,4 M. Dan
tahun 2015 satu-satunya SKPD yang minta dinaikkan targetnya
menjadi Rp. 8,041 M. Namun anggaran belanja untuk kegiatannya dalam
pembinaan, pengembangan dan pelayanan di objek belum begitu menjadi
perhatian yang serius untuk diprioritaskan oleh desicion maker of budget di Pemerintah Daerah, walaupun Pemda telah menyebutkan bahwa Pariwisata adalah salah satu core strategy
dari 4 strategi yang menjadi prioritas disamping Pendidikan, Kesehatan,
dan Perdagangan Jasa. Padahal sektor Pariwisata (Hotel, Restoran, Usaha
Kuliner dan Pedagangan Ekonomi Kreatif ) penyumbang 62 % Pendapatan
Asli Daerah.
Saat ini Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bukittinggi tidak memiliki
Kantor Pusat Informasi, Gedung Kesenian tempat pengembangan kreativitas
masyarakat, gedung kantor yang sempit dan tak punya ruang rapat dan
petemuan. Gedung atraksi yang sudah rusak ditimpa pohon dan diperbaiki
dengan jalan patungan, dan banyak anggaran yang diminta demi
pengembangan dan pembinaan pariwisata tak kunjung terealisasikan karena
minimnya anggaran yang dialokasikan buat Dinas penyumbang PAD terbesar
ini.
Setelah 2 kali peringatan HUT Pencangan Bukittinggi Sebagai Kota
Wisata dengan berbagai kegiatannya, semuanya terselenggara tidak dengan
anggaran / DPA khusus kegiatan tersebut. Tapi terselenggara berkat
kerjasama dengan mitra kerja, BUMN maupun BUMD dan pihak-pihak yang
peduli dengan pengembangan Pariwisata Bukittinggi.
Rangkaian Acara HUT ke 31 pencanagan Bukittinggi sebagai Kota Wisata kali ini bertemakan : Kita tingkatkan Citra Pariwisata melalui Sapta Pesona berbasiskan masyarakat.Adapun
maksud dari tema ini adalah, kita ingin Citra Pariwisata di Bukittinggi
tetap baik dan bahkan meningkat, mengingat persaingan kepariwisataan
semakin ketat antar daerah, antar regional, bahkan internasional. Dengan
adanya kebijakan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan diberlakukan
akhir 2015 ini, maka dunia pariwisata juga harus siap akan segala
konsekwensi dari bebasnya arus lalulintas barang, jasa, dan sumberdaya
ketenagaan tersebut.
Tanggal 28 Februari sd 1 Maret 2015 diadakan Festival Lagu Minang se
Sumatera Barat yang diselenggarakan secara independen oleh Kelompok
Pencinta Budaya Luhak Nan Tigo – Lemersing. Kemudian mulai tanggal 28
Februari, setiap Sabtu dan Minggu diadakan Pagelaran Seni dan Budaya
dalam rangka mewadahi talenta anak usia sekolah . Acara tersebut bekerja
sama dengan Dinas Pendidikan Pemuda da Olahraga.
Kegiatan ini cukup positif dan bertujuan untuk memberikan wadah untuk
tampil setelah semua sekolah kita mempunyai sarana dan peralatan
kesenian. Mereka sudah di latih oleh guru-guru maupun tenaga ahli yang
didatangkan untuk hal tersebut. Sayang sekali kalau mereka dilatih hanya
untuk even-even lomba yang tentunya tidak ada setiap saat. Maka
kreativitas anak-anak tersebut perlu dipupuk dan ditampilkan pada
khalayak bahwa mereka punya potensi, mereka punya bakat dan bisa
dinikmati oleh pengunjung objek wisata.
Kebanggaan akan potensi diri yang ditampilkan dalam wadah yang benar
akan membuat otak kanan anak-anak itu jadi berfungsi dengan baik sebagai
penyeimbang otak kiri yang pada akhirnya menjadikan anak-anak bangsa
kita itu mempunyai kwalitas yang bisa diharapkan.
Acara ini direncanakan akan diadakan sepanjang tahun ini dengan
agenda yang akan disusun untuk penampilan setiap sekolah, perguruan
tinggi, dan sanggar-sanggar serta komunitas yang ingin tampil di Medan
nan Bapaneh Taman Panorama dan Lobang Jepang.
Untuk memberikan pembelajaran di alam terbuka buat PAUD dan TK se
Bukittinggi diadakan acara Pengenalan Satwa dan cinta lingkungan hidup
di Kebun Binatang secara bergiliran dari tanggal 2 sd 5 Maret 2015.
Acara ini mendapat sambutan yang antusias dari sekolah maupun orangtua
murid, karena memberikan suasana yang berbeda dari keseharian anak-anak
untuk belajar. Tak kurang dari 2000 0rang anak dan guru pembimbimbingnya
ikut dalam acara ini.
Gambar: Anak-Anak Taman Kanak-Kanak se Bukittinggi dalam acara Pengenalan Satwa dan Lingkungan di Kebun Binatang Bukittinggi
Gambar: Anak-Anak diperkenalkan pada Satwa dan Lingkungan
Kecintaan terhadap lingkungan harus ditanamkan sedini mungkin, agar
tunas-tunas bangsa itu akan tumbuh menjadi dahan dan ranting yang kokoh
untuk penyelamat ketahanan bangsa dalam berbagai hal.
Tanggal 7 Maret 2015, selain pagelaran Seni di Medan Nan Bapaneh di
Panorama dan Lobang Jepang, juga diadakan pagelaran seni di pelataran
perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Acara ini adalah kerjasama dengan
UPT perpusnas tersebut, dengan tujuan mengembangakan fungsi Perpustakaan
sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan edukasi kebudayaan dan
seni, sehingga perpustakaan bisa pula dijadikan sebagai pusat kunjungan
wisata.
Minggu Tanggal 8 Maret 2015, juga diadakan kegiatan Senam bersama di
lapangan Sudirman, dilanjutkan jalan santai ke Panorama dan menyusuri
Lobang Jepang, terus ke kawasan Ngarai untuk aksi bersih-bersih bersama
warga masyarakat seputaran ngarai tersebut. Diikuti oleh ribuan peserta,
semuanya masuk ke Lobang Jepang dan keluar di Kelok Cindua.
Kegiatan ini sangat positif dalam menggerakkan olahraga di tengah
masyarakat, dan menjalin pergaulan sosial yang baik, serta memberikan
pembelajaran terhadap semua peserta untuk peduli dengan objek wisata
kawasan ngarai yang mempunyai pesona alam yang tiada taranya di dunia.
Penulis yakin apabila kita ikut membersihkan, tentu akan memiliki sikap
untuk tidak mengotorinya untuk masa yang akan datang, karena akan tumbuh
sikap “sence of belonging” (rasa memiliki).
Acara yang meriah itu diakhiri dengan hiburan orgen tunggal dan
pembagian ratusan doorprize dari 86 sponsorship mitra kerja Dinas
Pariwisata Bukittinggi.
Untuk memberikan apresiasi terhadap karya ekonomi kreatif sekaligus
memberikan apresiasi karya film anak negeri Bukittinggi, tanggal 9 Maret
2015 di Auditorium Perpustakaan proklamator Bung Hatta digelar nonton
bareng bersama Siswa-siswa SMP dan SMA, Guru Kesenian, Kepala Sekolah,
Kepala SKPD dan mitra kerja Dinas Pariwisata baik negeri maupun instansi
swasta . Karya film tersebut berjudul Menentukan Arah, dan pada
kesempatan itu Walikota Ismet Amzis dan penulis sekaligus produsernya
Muhammad Arief ikut memberikan apresiasi terhadap pemutaran film layar
lebar yang cukup layak ditonton oleh semua lapisan masyarakat ini.
Yang tak kalah menariknya adalah acara Galamai (Gebyar Lagu dan Malam
Interaksi) yang diadakan di Auditorium RRI Bukittinggi tanggal 10 Maret
2010, acara Galamai ini edisi khusus HUT 31 tahun Pencanangan Kota
Bukittinggi sebagai Kota Wisata, yang diisi oleh artis-artis binaan
Dinas Pariwisata dan Pemko Bukittinggi, serta dibahas juga berupa
promblem dan solusi pengembangan Kota Bukittinggiu sebagai kota Wisata,
yang langsung dihadiri oleh Ida Bagus Alit Wiraatmaja selaku Dewan
Pengawas LPP RRI Pusat, disamping tamu undangan lainnya.
Khusus untuk tanggal 11 Maret 2015 selama satu hari penuh Objek
Wisata di Bukittinggi digratiskan dari pungutan retribusi. Hal ini
dimaksudkan, dalam rangka memberikan apresiasi terhadap warga dan
pengunjung objek wisata Bukittinggi yang telah menjadikan Bukittinggi
sebagai tempat yang aman dan nyaman dikunjungi. Dengan adanya apresiasi
ini diharapkan agar terjadi dampak promosi positif terhadap kunjungan
wisata untuk masa-masa yang akan datang.
Dari pantauan lapangan, kegiatan Free Day
ke objek wisata ini mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat
dan pengunjung yang masuk objek wisata tersebut. Banyak yang memberikan
apresiasi pada Pemerintah Daerah Bukittinggi yang telah memikirkan
ide-ide kreatif pengembangan pariwisata Bukittinggi. Ibarat perusahaan
swasta, yang punya kewajiban terhadap masyarakat untuk mengeluarkan
presentase keuntungan sebagai dana CSR (corporate social responsibility) dalam
rangka kesejahteraan masyarakat, maka pemerintah yang mengelola usaha
seperti jasa pariwisatapun seharusnya dapat juga mengeluarkan CSR dalam
bentuk freeday ini, toh itu hanya 1 kali setahun……!
Bravo….. Semoga Kepariwisataan Bukittinggi terus berkembang di dekade ke 4 Bukittinggi sebagai Kota Wisata.
___________________________
Disalin dari blog: melfiabra.wordpress.com
*Tentang Penulis:
Melafi Abra merupakan seorang ASN di lingkungan Pemerintah Kota Bukittinggi, sejak 2014 hingga Februari 2017 dipercaya sebagai Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata dan kemudian sejak Maret 2017 hingga kini (2020) menjabat sebagai Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi.
Komentar
Posting Komentar