96. Bisokop Eri



Bangunan Bioskop Eri terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan yang berbatasan dengan Gedung Parkir Kota Bukittinggi di sebelah kiri dan Gedung Pegadaian di sebelah kanan. Di seberang jalan terdapat sebuah bangunan rumah peninggalan masa kolonial yang dimiliki oleh keluarga pelukis terkenal Wakidi yang sempat menjadi guru di Sekolah Raja dan kemudian di SMA N 2 Kota Bukittinggi. Bagian belakang bangunan berupa tebing yang mengarah ke Jl. Khatib Sulaiman yang di seberangnya terdapat Taman Tugu Pahlawan Tak Dikenal.


Bangunan Bioskop memiliki ciri khas arsitektur kolonial yang tampak pada fasad bangunan dengan ruangan utama ialah ruang pertunjukan. Kursi tempat duduk masih asli yang terbuat dari rotan. Ruang pertunjukan ini berada memanjang pada bagian belakang. Adapun pada bagian depan terdiri atas tiga ruangan berlantai dua. Bagian tengah merupakan aula tempat masuk, bagian kiri merupakan ruang penjualan karcis, sedangkan pada ruang bagian kanan terdapat tangga menuju ke lantai atas. Lantai atas terbagi kepada dua ruangan, ruangan pertama yang terhubung dengan tangga ke lantai bawah ialah tempat shalat sedangkan ruangan kedua ialah tempat proyektor filem.

Bangunan bioskop terbuat dari bata berspesi dengan lantai ubin, bagian dinding telah kusam, demikian juga langit-langit.

Bioskop ini merupakan satu-satunya biskop yang masih beroperasi di Kota Bukittinggi hingga kini. Secara umum bagunan masih utuh namun tidak terawat dikarenakan kurangnya pemasukan akibat monopoli yang dilakukan oleh salah satu jaringan bioskop yang ada di Indonesia terhadap peredaran pemutaran filem.

Merupakan salah satun gedung bioskop di Kota Bukittinggi yang telah ada semenjak Zaman Kolonial Belanda. Berdasarkan plakat yang tertempel pada dinding bagian depan bangunan didapat keterangan bahwa Gedung Bioskop ini didirikan oleh kontraktor yang bernama Marah Mohd. Joesoef pada tahun 1939.

Tidak didapat keterangan pasti perihal proses pendirian bioskop serta pemilik mula-mula, namun pada peta lama Kota Bukittinggi tahun 1945 yang diterbitkan oleh tentara Sekutu terdapat data tentang keberadaan Bioskop (Bioscoop) ini.

Bioskop Eri pada masa kemerdekaan sempat mengalami masa jaya pada tahun 1970an. Bioskop yang normalnya beroperasi dua kali sehari yakni pada petang (sore) dan malam hari dapat mengalami penambahan jam beroperasi. Terutama sekali tatkala hari raya dimana untuk dapat menonton mesti memesan tiket terlebih dahulu serta harus melalui antrian.

Pengunjung bioskop tidak hanya dari rakyat kebanyakan namun juga terdapat beberapa pejabat di lingkungan Kota Bukittinggi saat itu. 


-2018-

Foto-foto:



















Komentar

Postingan populer dari blog ini

29. Wisma Anggrek

13. Batu Kurai Limo Jorong

Garis Waktu Bukittinggi